Bagaimana afirmasi dapat membantu kita?
Kondisi emosional yang tidak menyenangkan bisa dialami oleh siapa saja. Ketika sedang merasa sedih, cemas, kecewa, atau tertekan, kita sering mencari orang yang kita percaya untuk bercerita. Pada saat-saat seperti itu, kita mungkin mendengar kalimat-kalimat seperti, “Semangat! Kamu kuat!”, “Itu hanya perasaanmu. Kamu layak dicintai,” atau “Aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu berharga.” Kalimat-kalimat semacam ini biasanya disampaikan dengan niat baik—untuk menghibur, menguatkan, dan membuat kita merasa lebih baik. Sekilas, afirmasi seperti ini memang tampak membantu. Terlebih ketika kita sedang berada dalam situasi yang sulit dan sangat membutuhkan penghiburan. Namun, benarkah mengatakan hal-hal positif kepada diri sendiri atau orang lain selalu membuat kita atau orang lain merasa lebih baik?
Menariknya, penelitian dalam konteks Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dan psikologi menunjukkan bahwa afirmasi positif tidak selalu memberikan efek yang kita harapkan. Dalam kondisi tertentu, afirmasi bahkan dapat menjadi bumerang—terutama ketika seseorang sedang terpuruk dan memiliki harga diri (self-esteem) yang rendah.
Bayangkan seseorang yang sedang bergumul dengan keyakinan bahwa dirinya tidak berharga, kemudian kita berkata, “Kamu berharga!” Sekilas, kalimat itu terdengar menguatkan. Namun, bagi orang tersebut, kalimat yang begitu bertolak belakang dengan apa yang ia yakini tentang dirinya justru dapat membuat jarak antara kenyataan yang ia rasakan dan pesan yang ia dengar menjadi semakin terasa. Alih-alih merasa lebih baik, ia mungkin justru semakin menyadari, “Kalau memang aku berharga, mengapa aku tidak merasa demikian?”
Hal ini berkaitan dengan cara pikiran kita memproses informasi yang tidak selaras dengan keyakinan yang sudah ada. Ketika sebuah pernyataan terasa terlalu jauh dari apa yang kita percayai tentang diri sendiri, kita tidak selalu menerimanya begitu saja. Dalam kondisi tertentu, justru ketidaksesuaian itulah yang membuat keyakinan negatif tentang diri semakin menonjol.
Sejumlah penelitian memberikan gambaran mengenai fenomena ini. Hames dan Joiner (2012), misalnya, menemukan bahwa afirmasi positif memberikan efek yang relatif sementara pada individu dengan harga diri tinggi, tetapi tidak memberikan manfaat yang sama pada individu dengan harga diri rendah. Temuan yang lebih awal dari Wood dkk. (2009) bahkan menunjukkan bahwa mengulang pernyataan positif seperti “Saya adalah pribadi yang layak dicintai” dapat membuat individu dengan harga diri rendah merasa lebih buruk.
Dengan demikian, persoalannya mungkin bukan sesederhana apakah afirmasi itu “baik” atau “buruk”. Yang lebih penting adalah siapa yang menggunakannya, dalam kondisi seperti apa, dan seberapa jauh pernyataan tersebut sesuai dengan apa yang sedang ia yakini tentang dirinya. Afirmasi yang terasa menguatkan bagi seseorang belum tentu memberikan pengalaman yang sama bagi orang lain.
Afirmasi membantu selagi kita tidak membutuhkannya.
Referensi:
Hames, J. L., & Joiner, T. E. (2012). Resiliency factors may differ as a function of self-esteem level: Testing the efficacy of two types of positive self-statements following a laboratory stressor. Journal of Social and Clinical Psychology, 31(6), 641-662.
Wood, J. V., Elaine Perunovic, W. Q., & Lee, J. W. (2009). Positive self-statements: Power for some, peril for others. Psychological science, 20(7), 860-866.








