Ditulis Oleh Hani Azizah Azaniansyach dan Eka Saputri, Mahasiswi Universitas Pamulang

Dulu, audiens sering dianggap hanya sebagai penerima pesan media. Ketika televisi menayangkan berita atau film, masyarakat diposisikan sebagai penonton yang menerima informasi dari pembuatnya. Namun, perkembangan internet dan media sosial mengubah cara kita berhubungan dengan media. Kini, audiens tidak hanya menonton, membaca, atau mendengarkan, tetapi juga ikut berkomentar, membagikan informasi, bahkan menciptakan konten sendiri. Kita bukan lagi sekadar penonton, melainkan bagian dari proses pembentukan makna.

Perubahan ini sebenarnya telah dibahas oleh Stuart Hall melalui teori encoding-decoding. Hall menjelaskan bahwa pesan yang dibuat oleh media tidak selalu dimaknai dengan cara yang sama oleh setiap orang. Ada yang menerima pesan sesuai dengan maksud pembuatnya, ada yang menerima sebagian sambil mempertanyakan bagian lainnya, dan ada pula yang menolaknya. Misalnya, sebuah film bisa dianggap sebagai hiburan oleh sebagian penonton, tetapi dipahami sebagai kritik sosial oleh penonton lainnya. Artinya, makna tidak hanya berasal dari apa yang disampaikan media, tetapi juga dari pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang audiens.

Di media sosial, proses pemaknaan tersebut menjadi semakin menarik karena audiens dapat menyampaikan tafsirannya secara terbuka. Setelah menonton film, seseorang bisa membuat ulasan, mengunggah meme, atau membagikan pendapat yang kemudian memengaruhi cara orang lain melihat film tersebut. Fenomena ini berkaitan dengan istilah prosumer, yaitu perpaduan antara produsen dan konsumen. Kita tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga memproduksi dan menyebarkan makna baru. Sebuah unggahan sederhana bahkan bisa memicu diskusi panjang, menjadi viral, atau mengubah cara publik memahami suatu peristiwa.

Namun, apakah kita benar-benar bebas menentukan konten yang ingin dilihat dan dimaknai? Di sinilah algoritma media sosial ikut berperan. Konten yang muncul di linimasa tidak hadir secara acak, tetapi dipengaruhi oleh riwayat interaksi, minat, dan kebiasaan pengguna. Akibatnya, kita cenderung melihat konten yang dianggap sesuai dengan preferensi kita. Kondisi ini berkaitan dengan filter bubble, yaitu situasi ketika personalisasi informasi berpotensi membatasi paparan terhadap sudut pandang yang berbeda. Tanpa disadari, apa yang kita anggap sebagai gambaran dunia yang utuh bisa jadi hanya sebagian kecil dari informasi yang tersedia.

Persoalan tersebut semakin rumit ketika kita berada dalam echo chamber, yaitu lingkungan komunikasi yang terus memperkuat pandangan serupa. Di media sosial, kita mungkin lebih sering berinteraksi dengan orang-orang yang sepemikiran dan menghindari pendapat yang bertentangan. Akibatnya, informasi yang sesuai dengan keyakinan kita lebih mudah dipercaya, sedangkan pandangan berbeda cenderung ditolak. Konten yang memancing emosi atau kontroversi juga berpotensi menarik perhatian lebih besar. Meski demikian, algoritma bukan satu-satunya penyebab polarisasi. Kebiasaan pengguna, lingkungan sosial, dan kepentingan politik juga ikut memengaruhi cara informasi diterima.

Dampak lainnya adalah semakin beragamnya pengalaman audiens dalam memahami suatu persoalan. Dua orang bisa membicarakan peristiwa yang sama, tetapi memiliki pemahaman yang sangat berbeda karena memperoleh informasi dari sumber dan lingkungan digital yang berlainan. Kondisi ini dapat menyulitkan masyarakat untuk menemukan titik temu dalam diskusi. Padahal, perbedaan pendapat tidak selalu menjadi masalah. Yang perlu diwaspadai adalah ketika orang tidak lagi memiliki dasar informasi yang sama untuk berdialog, memeriksa fakta, dan memahami persoalan secara utuh.

Di sisi lain, media sosial juga memberi kesempatan bagi audiens untuk membangun komunitas dan menghasilkan makna bersama. Komunitas penggemar, gerakan sosial berbasis tanda pagar (hashtag), hingga kelompok dengan minat tertentu dapat menyebarkan gagasan dan membangun solidaritas. Sebuah meme, misalnya, bisa menjadi lelucon bagi sebagian orang, tetapi menjadi bentuk kritik sosial bagi komunitas lainnya. Makna tersebut tumbuh melalui interaksi dan pengalaman bersama. Meski begitu, komunitas digital juga perlu terbuka terhadap kritik agar solidaritas tidak berubah menjadi sikap menutup diri dari pandangan yang berbeda.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan agar tetap menjadi audiens yang aktif dan kritis? Salah satu langkah penting adalah meningkatkan literasi media. Kita perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membandingkan berita dari beberapa media, dan memahami konteks sebelum membagikan suatu konten. Selain itu, kita juga perlu menyadari bahwa linimasa bukanlah gambaran netral dari seluruh informasi yang ada. Sesekali, cobalah membaca perspektif yang berbeda, mempertanyakan informasi yang terasa terlalu meyakinkan, dan tidak langsung mempercayai konten hanya karena banyak orang menyukainya.

Literasi media juga berkaitan dengan tanggung jawab kita sebagai pembuat konten. Ketika mengunggah komentar, membagikan berita, atau membuat meme, kita ikut memengaruhi cara orang lain memahami suatu persoalan. Karena itu, kebebasan berekspresi sebaiknya disertai kesadaran terhadap kebenaran informasi, konteks, dan dampak yang mungkin ditimbulkan. Menjadi audiens aktif bukan berarti kita harus selalu berkomentar atau membuat konten, melainkan mampu berpikir kritis, menentukan sikap, dan memahami alasan di balik penafsiran kita sendiri.

Pada akhirnya, audiens di era media sosial berada dalam posisi yang menarik sekaligus penuh tantangan. Kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan membentuk makna, tetapi pada saat yang sama, pengalaman kita juga dipengaruhi oleh algoritma dan lingkungan digital. Karena itu, menjadi pemakna aktif tidak cukup hanya dengan berani berbicara atau membagikan konten. Kita juga perlu memahami bagaimana makna terbentuk, siapa yang memengaruhinya, dan mengapa kita mempercayai suatu informasi. Sebab, di tengah derasnya arus media sosial, kebebasan yang paling penting bukan sekadar kebebasan untuk mengunggah sesuatu, melainkan kemampuan untuk berpikir sebelum percaya dan memahami sebelum menyimpulkan.