Pikiran kita memiliki sifat alamiah untuk mengembara. Setiap hari, ribuan pikiran muncul, sering kali memuat tema-tema yang berulang atau bahkan tidak berkaitan satu sama lain. Namun, entah bagaimana, pikiran-pikiran tersebut saling terhubung membentuk jaringan yang rumit. Ketika satu pikiran terpicu, getarannya seolah merambat ke seluruh jaringan, hingga kepala kita tiba-tiba terasa penuh oleh berbagai pikiran lainnya.
Sering kali, pikiran kita memuat penilaian, baik positif maupun negatif. Umumnya, kita menganggap bahwa pikiran negatiflah yang menjadi masalah. Misalnya, ketika kita menilai seseorang sebagai pribadi yang pendiam, penilaian ini dengan mudah memunculkan berbagai pikiran lainnya. Kita mungkin mulai berpikir bahwa orang tersebut diam karena tidak menyukai kita, atau bahkan, lebih jauh lagi, karena merendahkan kita. Kita pun kemudian menilai bahwa orang tersebut tidak sopan dan tidak menghargai kita. Satu penilaian memicu penilaian lainnya, hingga tanpa disadari, pikiran kita dipenuhi oleh rangkaian penilaian yang terus berkembang.
Sayangnya, penilaian positif juga dapat menjadi masalah. Misalnya, ketika kita berpikir bahwa seseorang tampak hebat, hal itu dapat memicu perbandingan dengan diri sendiri. Pada situasi lain, penilaian positif juga dapat membuat kita memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap seseorang. Akibatnya, ketika di kemudian hari orang tersebut menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan penilaian kita, kita pun mudah merasa kecewa atau bahkan menjadi ilfeel.
Dalam Dialectical Behavior Therapy, terdapat konsep “Pikiran Pemula” (Beginner’s Mind), yaitu memandang suatu situasi atau seseorang sebagaimana adanya, seolah-olah kita baru pertama kali bertemu dengannya. Tidak ada ekspektasi yang dilekatkan dan tidak ada penilaian tertentu yang perlu diyakini. Sebaliknya, kita membuka diri untuk hadir sepenuhnya dan mengalami apa yang terjadi sebagaimana adanya.
Penilaian tidak hanya diarahkan kepada orang lain atau pengalaman eksternal, tetapi juga sering kali diarahkan kepada diri sendiri. Nahasnya, kita kerap terlalu kaku dalam meyakini aturan tertentu dan menganggapnya sebagai sebuah keharusan. Maka, ketika kita bertindak dengan cara yang berbeda dari aturan yang kita paksakan kepada diri sendiri, kita menjadi rentan merasa tidak berharga.
Misalnya, kita memandang diri sendiri sebagai orang yang kompeten. Namun, ada kalanya kita menyadari bahwa kita kurang menguasai suatu bidang atau keterampilan tertentu. Ketika kita terlalu kaku meyakini bahwa diri kita harus selalu kompeten, kita menjadi rentan merasa kecewa ketika ada saatnya kita tidak menguasai sesuatu.
Contoh lain, kita meyakini diri sendiri sebagai orang yang kurang percaya diri. Namun, jujurlah pada diri sendiri: apakah kita benar-benar selalu tidak percaya diri selama 24 jam dalam 7 hari? Apakah kita selalu tidak percaya diri kepada semua orang yang kita temui?
Lalu, ketika kita menganggap diri kita sebagai orang yang kompeten, jujurlah: apakah kita selalu menguasai dan mengetahui segalanya? Jika Anda menjawab ya, BOHONG!
Keyakinan yang kaku dalam memandang diri sendiri justru dapat membatasi kita dan membuat kita semakin jauh dari diri sendiri. Bagaimana jika tidak ada satu pun penilaian yang benar-benar dapat mewakili diri kita? Bagaimana jika keberadaan kita tidak perlu dibuktikan dengan penilaian apa pun, dan cukup dengan hadir?
Pada akhirnya, masalahnya bukan karena pikiran kita menghasilkan penilaian. Menilai adalah bagian alamiah dari cara kerja pikiran. Yang sering kali membuat kita terjebak adalah ketika kita terlalu percaya pada penilaian tersebut dan menganggapnya sebagai kebenaran tentang orang lain maupun tentang diri sendiri.
Mungkin kita tidak dapat menghentikan pikiran untuk mengembara, tetapi kita dapat belajar untuk tidak selalu mengikutinya. Kita dapat mengamati pikiran sebagai sesuatu yang sedang muncul, tanpa harus melekat, melawan, atau menjadikannya sebagai identitas diri. Sebab, kita bukanlah penilaian yang muncul di dalam kepala kita.
Maka, mungkin sesekali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Bagaimana jika saya tidak harus menjadi siapa-siapa hari ini? Bagaimana jika saya cukup hadir, mengalami, dan menjalani apa yang ada di hadapan saya?
Disarikan dari Acceptance and Commitment Therapy and Dialectical Behavior Therapy.








