Dari tulisan-tulisan sebelumnya, kita telah mengenal garis besar konsep penerimaan yang menjadi salah satu semangat utama dalam Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Meski demikian, mungkin masih ada bagian yang terasa kabur, membingungkan, atau bahkan bertentangan dengan keyakinan yang selama ini kita pegang.
Hal ini sebenarnya cukup wajar. Kita tumbuh bersama berbagai nasihat keagamaan yang mengajarkan untuk bersabar ketika kehilangan, bersyukur ketika berada dalam keterpurukan, atau belajar ikhlas ketika hati sedang membutuhkan penghiburan.
Nasihat-nasihat tersebut telah begitu akrab dalam kehidupan kita. Lalu, bagaimana sebenarnya penerimaan dalam ACT? Apakah menerima berarti kita harus berhenti merasa sedih? Apakah ikhlas berarti kita tidak boleh kecewa? Atau apakah menerima keadaan berarti kita harus pasrah dan tidak melakukan apa-apa? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting untuk dibicarakan, karena penerimaan dalam ACT tidak sesederhana “menerima apa adanya”.
Ada perbedaan antara menerima pengalaman yang sedang kita alami dan menyerah pada keadaan. Memahami perbedaan inilah yang akan membantu kita melihat penerimaan dengan cara yang lebih utuh. Ikhlas dan sabar yang dianjurkan dalam agama sejatinya merupakan sebuah output, bukan kondisi yang dapat dimiliki secara instan. Namun, keduanya kerap disalahartikan sebagai kualitas diri yang harus sudah kita miliki sepenuhnya. Dalam perspektif Acceptance and Commitment Therapy (ACT), keikhlasan justru dipahami sebagai sebuah proses yang berlangsung sepanjang hayat. Ya, Anda tidak salah baca—sepanjang hayat. Sebab, kita tidak pernah benar-benar “mencapai” keikhlasan atau penerimaan sebagai sebuah titik akhir. Kita tidak dapat mencentang penerimaan dalam daftar kualitas diri seolah-olah tugas tersebut telah selesai. Penerimaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah nilai yang terus memberikan arah: menunjukkan kepada kita jalan hidup seperti apa yang hendak kita tempuh, bahkan ketika perjalanan itu terasa sulit.
Penerimaan tidak berarti pasrah, berpangku tangan pada takdir Tuhan, atau menunggu masalah selesai dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Penerimaan juga bukan berarti membiarkan diri tetap berada dalam lingkungan yang toxic, bahkan ketika tubuh sudah memberikan sinyal bahwa kita merasa tidak aman. Justru, dalam ACT, penerimaan berjalan beriringan dengan committed action—keberanian untuk mengambil tindakan nyata dan konkret yang selaras dengan nilai-nilai yang kita yakini. Jadi, ketika kita berada dalam situasi yang membuat tidak nyaman, misalnya, penerimaan bukan berarti memaksa diri untuk terus bertahan. Kita justru perlu mengenali dan menyadari sensasi serta emosi yang muncul dalam diri. Dari kesadaran tersebut, kita dapat memilih tindakan yang lebih sehat—bukan sekadar menghindar, namun berani menetapkan batasan yang jelas ketika situasi memang tidak sesuai dengan kebutuhan dan nilai diri kita.
Penerimaan sendiri merupakan kesediaan untuk merasakan dan mengalami apa yang hadir dalam diri, tanpa terus-menerus berusaha melawan atau menghindari pikiran dan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia adalah keterbukaan untuk menyadari dan mengenali apa yang sedang kita rasakan, dengan rasa ingin tahu, welas asih, dan kesediaan untuk mengalami pengalaman tersebut apa adanya. Jadi, ketika sedang sedih, misalnya, kita tidak harus buru-buru mengusir kesedihan atau memaksakan diri untuk segera bersabar. Kita dapat memberi ruang bagi diri untuk bersedih, mengakui bahwa kesedihan itu memang sedang hadir, lalu memilih tindakan yang tetap sejalan dengan nilai-nilai yang kita yakini.








