Jakarta — AIESEC in UIN Jakarta mengajak Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) mengembangkan kemampuan merancang kampanye pariwisata digital melalui Tourism Capacity Lab: Virtual Campaign Created di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 10 Agustus 2026. Kegiatan ini dirancang untuk membantu peserta memahami bagaimana sebuah tempat dapat dipetakan, dikemas melalui konten kreatif, kemudian diperkenalkan kepada wisatawan melalui strategi digital.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pembukaan, pengenalan agenda, serta check-in untuk membangun kesiapan peserta sebelum memasuki kegiatan utama. Setelah sambutan dari perwakilan AIESEC, peserta langsung diarahkan untuk melihat Perpusnas dari sudut pandang yang berbeda melalui sesi Explore & Mapping Perpusnas.

Dalam sesi tersebut, EPs dan LVs dibagi ke dalam kelompok untuk mengeksplorasi berbagai area di Perpusnas. Mereka diminta mencatat kelebihan dan kekurangan tempat tersebut berdasarkan perspektif wisatawan dan pembuat konten. Peserta juga berkesempatan mencoba fasilitas maupun produk yang tersedia sebagai bagian dari proses mengenali pengalaman yang dapat ditawarkan kepada pengunjung.

Hasil observasi kemudian diterjemahkan ke dalam tantangan pembuatan konten melalui Content Shooting Challenge: Rumah Goa Vibes. Setiap kelompok ditantang menghasilkan foto dan video yang mampu memperkenalkan Perpusnas dengan pendekatan kreatif. Penilaian tidak hanya mempertimbangkan sudut pengambilan gambar, tetapi juga bagaimana peserta membangun cerita, menyampaikan pesan promosi, serta menciptakan visual yang mampu menarik perhatian audiens.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa proses promosi destinasi tidak selalu dimulai dari pembuatan materi iklan. Peserta terlebih dahulu perlu memahami karakter sebuah tempat, menemukan sisi yang menarik, lalu menentukan cara terbaik untuk menyampaikannya kepada target audiens.

“Menurutku bagian eksplorasi membuat kami lebih sadar bahwa satu tempat bisa punya banyak cerita. Setelah melihat langsung dan mencari sisi yang menarik, kami jadi lebih mudah menentukan konten seperti apa yang bisa digunakan untuk memperkenalkannya,” ujar Mira, salah satu peserta kegiatan.

Pemahaman peserta kemudian diperdalam melalui sesi Discussion about Perpusnas. Setiap kelompok mendiskusikan rencana implementasi kampanye virtual berdasarkan hasil observasi sebelumnya. Mereka mulai menentukan platform yang akan digunakan, sudut cerita, serta pendekatan konten yang sesuai dengan tujuan promosi.

Kemampuan menyampaikan nilai sebuah destinasi kemudian diuji melalui Pitch It in 60 Seconds!. Setiap kelompok diberi kesempatan mempresentasikan Perpusnas kepada “wisatawan internasional” dalam waktu singkat. Peserta ditantang memilih informasi yang paling menarik dan menyampaikannya secara persuasif, termasuk dengan memadukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Setelah istirahat, proses perencanaan dilanjutkan melalui Content Planning Discussion. Peserta menyusun konsep kampanye secara lebih terstruktur dengan menentukan platform target, story angle, format konten seperti Reels, TikTok, atau Feed, serta pembagian tugas dalam kelompok. Tahap ini membantu peserta menghubungkan ide kreatif dengan kebutuhan eksekusi kampanye.

Aktivitas semakin interaktif melalui Caption Battle: On The Map Version. Peserta diberikan foto destinasi secara acak dan diminta menyusun caption dalam waktu terbatas. Caption kemudian dibacakan dan dipilih oleh peserta lain berdasarkan daya tariknya. Permainan tersebut menjadi latihan sederhana untuk memahami bagaimana tulisan dapat memperkuat pesan visual dalam promosi digital.

AIESEC in UIN Jakarta Ajak Peserta Mengubah Potensi Lokal Menjadi Kampanye Pariwisata Digital
AIESEC in UIN Jakarta Ajak Peserta Mengubah Potensi Lokal Menjadi Kampanye Pariwisata Digital — AIESEC in UIN Jakarta

Menurut Davin, salah satu peserta, proses menyusun kampanye membuatnya melihat hubungan antara kreativitas dan strategi. “Kami bukan hanya diminta membuat konten yang bagus, tetapi juga harus memikirkan siapa yang ingin dituju dan bagaimana membuat mereka tertarik. Jadi ada proses berpikir di balik konten yang dibuat,” ungkapnya.

Menjelang akhir kegiatan, EPs dan LVs menggunakan Working Hour untuk menyempurnakan konsep virtual campaign sekaligus mempersiapkan materi untuk agenda penyuluhan di Keranggan pada hari berikutnya. Peserta menyelesaikan presentasi dan materi kampanye secara paralel dengan mendapatkan masukan dari panitia selama proses pengerjaan.

Melalui Tourism Capacity Lab: Virtual Campaign Created, AIESEC in UIN Jakarta memberikan pengalaman yang menghubungkan observasi lapangan dengan proses kreatif dan strategi komunikasi digital. Peserta belajar bahwa memperkenalkan sebuah tempat kepada wisatawan membutuhkan lebih dari sekadar dokumentasi visual. Dibutuhkan kemampuan menemukan nilai, membangun cerita, menentukan target audiens, serta mengemas pesan secara menarik agar potensi lokal dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas, termasuk wisatawan internasional.