Tangerang Selatan — AIESEC in UIN Jakarta mengajak Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) memahami hubungan antara potensi masyarakat, produk lokal, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui Keranggan Growth Lab: Sustainable Tourism Strategy & Local Branding di Ekowisata Keranggan pada 4 Agustus 2026. Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan prinsip pariwisata berkelanjutan sekaligus memberikan pengalaman praktis dalam menyusun strategi sederhana yang dapat mendukung pengembangan destinasi dan usaha masyarakat.
Kegiatan dimulai dengan eksplorasi kawasan Ekowisata Keranggan. EPs dan LVs diajak melihat langsung lingkungan sekitar sebelum memasuki sesi pembelajaran. Pengalaman tersebut menjadi pengantar untuk memahami bahwa potensi pariwisata tidak selalu berbentuk objek wisata utama, tetapi juga dapat berasal dari aktivitas, produk, budaya, serta kehidupan masyarakat yang memiliki karakter tersendiri.
Pemahaman tersebut kemudian diperkuat melalui sesi From Vision to Strategy: Membangun Pariwisata dan Usaha Berkelanjutan. Peserta mempelajari bagaimana potensi lokal dapat menjadi bagian dari pariwisata berkelanjutan dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian lingkungan serta budaya. Kuliner rumahan, kerajinan, hingga aktivitas sehari-hari diperkenalkan sebagai contoh potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata apabila dikelola dengan tepat.

Pembahasan kemudian bergeser pada pentingnya identitas melalui sesi Unlocking the Power of Local Branding. Peserta diperkenalkan pada konsep dasar branding, mulai dari nama, ciri khas, hingga cerita yang dapat membuat sebuah produk lebih mudah dikenali. Contoh visual mengenai local branding dan packaging digunakan untuk menunjukkan bagaimana identitas dapat memengaruhi daya tarik sebuah produk di mata calon pembeli.
Menurut Davin, salah satu peserta kegiatan, pembahasan tersebut membuatnya melihat potensi lokal dari perspektif yang berbeda. “Aku jadi lebih paham bahwa produk lokal bukan cuma soal barang yang dijual. Cara memberikan nama, cerita, dan identitas juga bisa membuat orang lebih mudah mengingat dan tertarik dengan produk tersebut,” ujarnya.
Selanjutnya, peserta mempelajari hubungan antara produk lokal dan pengalaman wisata melalui sesi Connecting Tourism & Local Products. Produk seperti makanan tradisional, oleh-oleh, kerajinan, maupun aktivitas masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata. Dengan mengembangkan produk yang memiliki identitas kuat, masyarakat juga dapat memperkuat daya tarik destinasi sekaligus membuka peluang bagi kegiatan ekonomi lokal.
Setelah mendapatkan materi, peserta menerima pengarahan mengenai kegiatan workshop dan mulai menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui Build Your Tourism & Branding Strategy. Mereka bekerja dalam kelompok untuk menyusun strategi sederhana yang menggabungkan konsep pariwisata dan local branding. Setiap kelompok menentukan gambaran destinasi, target pengunjung, nama, serta tagline yang sesuai dengan konsep yang mereka kembangkan.
Proses tersebut tidak hanya menuntut kreativitas, tetapi juga kemampuan peserta untuk mempertimbangkan siapa yang ingin mereka jangkau dan bagaimana sebuah destinasi dapat memiliki karakter yang jelas. Hasil pemikiran kelompok kemudian dipresentasikan dalam sesi Presentation & Feedback.
Setiap kelompok menyampaikan strategi yang telah mereka susun di hadapan peserta lainnya. Pembicara memberikan apresiasi sekaligus masukan untuk membantu peserta melihat kemungkinan pengembangan dari konsep yang dibuat. Melalui proses presentasi tersebut, peserta mendapatkan kesempatan untuk menguji gagasan mereka sekaligus belajar dari pendekatan kelompok lain.
“Bagian menyusun strategi kelompok menurutku paling menarik karena kami harus menggabungkan ide tentang destinasi dan branding dalam satu konsep. Setelah mendapat feedback, kami juga jadi tahu bagian mana yang masih bisa dibuat lebih jelas dan realistis,” ungkap Naura, salah satu peserta kegiatan.
Setelah istirahat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan permainan dan Reflection Space. Dalam sesi refleksi, EPs dan LVs mendiskusikan pengalaman selama kegiatan serta mengidentifikasi hal-hal yang berjalan baik maupun tantangan yang mereka temui. Pembahasan tersebut membantu peserta melihat kembali proses pembelajaran yang telah dilakukan, bukan hanya dari hasil akhirnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan Engagement Space, yang memberikan kesempatan bagi EPs dan LVs untuk memperkuat hubungan melalui percakapan dan aktivitas bersama. Interaksi tersebut menjadi bagian dari pengalaman pertukaran yang mempertemukan peserta dari latar belakang berbeda dalam proses belajar mengenai potensi masyarakat lokal.
Melalui Keranggan Growth Lab: Sustainable Tourism Strategy & Local Branding, AIESEC in UIN Jakarta mempertemukan pembelajaran mengenai pariwisata berkelanjutan dengan praktik pengembangan identitas produk. Peserta tidak hanya diajak mengenali potensi lokal, tetapi juga belajar bagaimana potensi tersebut dapat dikemas melalui strategi yang mempertimbangkan destinasi, masyarakat, produk, dan target pengunjung secara bersamaan.







