Jakarta, 30 September 2026 – Ketika mendengar kata batik, yang pertama terlintas mungkin motif dan kain. Padahal di balik setiap pola ada proses panjang, ketelitian, dan cerita yang membuat batik bermakna lebih dari sekadar pakaian. Pemahaman itu ditemukan Exchange Participants (EP) dan Local Volunteers (LV) AIESEC in UIN Jakarta dalam kegiatan Palbatu’s Journey di Rumah Batik Palbatu pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Kegiatan dibuka dengan obrolan ringan tentang apa yang peserta ketahui mengenai batik, mulai dari motif, warna, hingga kebiasaan mengenakannya sehari-hari. Pak Harry, perwakilan Rumah Batik Palbatu, lalu memperkenalkan sisi batik yang lebih dalam.
Peserta mengenal sejumlah motif beserta filosofinya. Parang melambangkan ksatria, tanggung jawab, dan konsistensi. Kawung memiliki sejarah penggunaan di lingkungan kerajaan, sedangkan Mega Mendung membawa makna keberuntungan dan berkah.
Peserta juga mempelajari bahwa batik ditentukan oleh proses pembuatannya. Batik tulis, batik cap, dan batik kombinasi memiliki karakteristik yang berbeda. Mereka diperkenalkan pada penggunaan canting serta tahapan pembuatan batik, mulai dari nerusi, nembok, pewarnaan, fiksasi, hingga lorod untuk melepaskan malam dari kain.
Teori kemudian berubah menjadi praktik. Didampingi Pak Harry, EP dan LV belajar memegang canting dengan benar dan mulai menggambar di atas kain. Aktivitas yang tampak sederhana ini ternyata penuh tantangan. Sebagian peserta kesulitan menjaga tangan tetap stabil, sementara sebagian lainnya justru paling menikmati tahap pewarnaan.
“Awalnya saya kira membuat batik hanya soal menggambar dengan canting. Ternyata dibutuhkan ketelitian dan kesabaran yang besar, sehingga saya jadi lebih menghargai proses panjang di balik satu kain batik,” ucap Aruzhan, Exchange Participant.
Pengalaman itu direfleksikan dalam sesi Stories Behind the Stories. Peserta berbagi bagian yang paling menantang sekaligus paling menarik, dan menyadari bahwa hasil akhir yang baik menuntut persiapan, fokus, dan kesediaan menjalani proses selangkah demi selangkah.
Setelah praktik, peserta menyusuri area koleksi Rumah Batik Palbatu. Mr. Fahri memperkenalkan berbagai kain dan pakaian batik sekaligus menjelaskan proses pewarnaan, fiksasi, dan lorod. Peserta juga melihat bahwa inspirasi motif tidak selalu datang dari unsur tradisional, tetapi bisa berasal dari objek sekitar seperti transportasi dan bangunan.
Kunjungan ini menunjukkan bahwa batik tidak berhenti di masa lalu. Kreativitas terus hadir lewat pengembangan motif, sementara teknik tradisional tetap dipraktikkan dalam konteks masa kini. Peserta juga mendapat informasi tentang berbagai jenis batik dan kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengikuti workshop di Rumah Batik Palbatu.
Untuk menguji pemahaman, peserta memainkan Truth, Twist & Tradition. Dalam kelompok EP Buddy, mereka mendiskusikan sejumlah pernyataan seputar pariwisata berkelanjutan dan bertanggung jawab, sehingga pengalaman budaya terhubung dengan perspektif pariwisata.
“Mengenal budaya tidak cukup hanya dengan melihat hasil akhirnya. Saat kita mencoba membuatnya dan mendengar cerita di baliknya, kita jadi paham mengapa sebuah tradisi perlu dihargai dan terus diperkenalkan,” ucap Putri, Local Volunteer.
Pembelajaran berlanjut lewat Call-to-Action berupa kampanye promosi. Peserta mengolah pengalaman mereka menjadi foto dan video promosi untuk memperkenalkan Rumah Batik Palbatu kepada audiens yang lebih luas. Kegiatan ditutup dengan sesi berbagi kesan dari seluruh peserta.
Melalui Palbatu’s Journey, AIESEC in UIN Jakarta berharap EP dan LV memahami bahwa menjaga budaya dapat dimulai dari kemauan untuk mengenal dan mengalaminya langsung. Kegiatan ini juga diharapkan menumbuhkan apresiasi terhadap batik sebagai warisan budaya serta mendorong peserta memperkenalkan cerita di baliknya kepada masyarakat luas.







