Hidup memang hanya sekali. Namun, sekali saja cukup ketika kita memilih untuk menjalaninya sesuai dengan nilai yang kita anut. Dalam perspektif ACT (Acceptance and Commitment Therapy), nilai bukanlah tujuan yang suatu hari akan kita capai, melainkan arah yang ingin kita tuju—tentang bagaimana kita ingin menjalani hidup dan menjadi pribadi seperti apa kita ingin hadir di dalamnya. Karena itu, nilai bukanlah daftar yang dapat kita centang setelah berhasil mencapainya. Kita tidak pernah benar-benar “selesai” menjalani suatu nilai. Kita dapat terus memilih untuk menjadi pasangan yang penuh kasih, orang tua yang hadir, sahabat yang setia, atau pribadi yang berani, tanpa pernah sampai pada titik di mana kita bisa berkata, “Saya sudah selesai menjadi demikian.” Di sinilah nilai berbeda dari tujuan. Tujuan memiliki titik akhir: sesuatu yang dapat kita capai dan kemudian kita tinggalkan untuk melangkah ke tujuan berikutnya. Sementara itu, nilai adalah arah yang dapat terus kita hidupi, hari demi hari, bahkan ketika perjalanan menuju ke sana tidak selalu mudah.

Masalahnya, ketika rasa sakit, ketakutan, atau penderitaan muncul, kita sering menganggapnya sebagai tanda bahwa kita harus berhenti atau menyingkirkannya terlebih dahulu. Seolah-olah kita baru bisa menjalani hidup dengan baik setelah semua hambatan itu berhasil disingkirkan. Kita pun tanpa sadar menjadikan ketiadaan rasa sakit sebagai syarat untuk hidup yang bermakna. Padahal, hidup sesuai nilai tidak selalu berarti hidup tanpa rasa sakit. Justru, ACT mengajak kita untuk belajar memberi ruang bagi pengalaman yang tidak nyaman—bukan untuk menyukainya, melainkan untuk berhenti menjadikan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang harus selalu dilawan. Kita dapat membawa rasa takut, sedih, kecewa, atau cemas itu bersama kita, sambil tetap melangkah ke arah yang bermakna. Sebab, terkadang, hidup yang selaras dengan nilai bukanlah tentang menunggu rasa sakit pergi, melainkan tentang memilih untuk tetap berproses sembari membawa rasa sakit berjalan bersama.

Bayangkan diri kita sebagai seorang sopir bus yang sedang membawa puluhan penumpang. Sepanjang perjalanan, para penumpang itu bisa saja berisik, rewel, bahkan terus-menerus meminta kita berhenti. Ada yang berteriak agar kita menghentikan bus, ada yang menyuruh kita berbalik arah, dan ada pula yang terus mengkritik cara kita mengemudi. Dalam situasi seperti ini, kita memiliki pilihan: menghentikan bus, lalu menghabiskan seluruh tenaga untuk menenangkan mereka satu per satu. Namun, ketika terlalu sibuk menghadapi para penumpang, kita bisa lupa bahwa kitalah yang memegang kemudi dan bahwa ada tujuan yang hendak kita tuju. Pilihan lainnya adalah tetap memegang kemudi dan melanjutkan perjalanan. Kita tidak perlu membuat para penumpang diam, tidak perlu mengusir mereka dari bus, bahkan tidak perlu meyakinkan mereka agar setuju dengan arah perjalanan kita. Kita cukup membiarkan mereka bersuara, sementara kita tetap mengarahkan bus menuju tempat yang ingin kita tuju. Begitulah kira-kira ACT memandang berbagai pikiran, emosi, dan pengalaman tidak nyaman dalam hidup: mereka boleh hadir dan bersuara, tetapi tidak perlu mengambil alih kemudi kehidupan kita.

Ketika kita merasa kehilangan arah atau semangat dalam hidup, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak—bukan untuk menyerah, melainkan untuk kembali melihat ke mana kita ingin melangkah. Cobalah merenungkan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa yang sungguh-sungguh penting bagi saya dalam hidup?

  • Setelah semua yang telah saya lalui, apa yang sejak awal ingin saya perjuangkan, dan apa yang membuat saya masih memilih untuk bertahan?

  • Seperti apa saya ingin menjalani hidup ini, dan pribadi seperti apa yang ingin saya menjadi?

Mungkin kita tidak selalu dapat menemukan jawabannya seorang diri. Dan mungkin, belajar menerima hidup apa adanya bukanlah sesuatu yang harus kita lakukan sendirian. Berproses bersama profesional dapat menjadi ruang untuk memahami diri, memberi tempat bagi rasa sakit yang selama ini kita hindari, sekaligus perlahan menemukan kembali arah hidup yang ingin kita jalani.