Ada dua cara manusia memahami dunia yang sering dianggap saling bermusuhan. Yang satu bergerak lewat visi besar, intuisi, dan gagasan ideal tentang bagaimana realitas seharusnya tersusun. Yang lain bergerak lewat data, verifikasi, dan kesabaran untuk tidak mengklaim sesuatu sebelum benar-benar terbukti. Sebut saja yang pertama pemikir idealis-fiksi, dan yang kedua pemikir akademis-empiris.
Selama ini keduanya lebih sering dijadikan bahan sindiran ketimbang dibedah serius, si "tukang mimpi" melawan si "kutu buku kaku". Padahal kalau ditelusuri lebih jauh, ketegangan antara keduanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih penting untuk dipahami, yaitu bagaimana masing-masing cara berpikir ini punya kekuatan dan batasnya sendiri, dan bagaimana keduanya sebenarnya saling membutuhkan.
Salah satu ilustrasi paling menarik datang dari kisah penyair Polandia abad ke-19, Juliusz Słowacki. Dalam karya filosofisnya, Genesis dari Roh, ia menggambarkan bagaimana reptil bisa berubah menjadi burung, lengkap dengan gagasan bahwa struktur tubuh lama bisa "dipakai ulang" untuk fungsi yang sama sekali baru. Ia menuliskan ini jauh sebelum fosil Archaeopteryx digali dari tanah Jerman dan mengguncang pemahaman manusia soal asal-usul burung. Ia tidak pernah melihat satu fosil pun. Yang ia punya hanyalah intuisi tentang bagaimana bentuk kehidupan berkembang, murni cara kerja pemikir idealis-fiksi.
Puluhan tahun kemudian, ilmu evolusi modern menyebut fenomena itu dengan istilah exaptation, yaitu ketika sebuah struktur biologis yang awalnya berevolusi untuk satu fungsi, ternyata "dipinjam" untuk fungsi lain yang jauh lebih penting, seperti sisik yang berevolusi menjadi bulu, lalu bulu yang ternyata bisa dipakai untuk terbang. Słowacki menebaknya lewat perenungan, khas pemikir idealis-fiksi. Sains membuktikannya lewat bukti, khas pemikir akademis-empiris.
Kisah ini akan terus kita pakai sebagai contoh sepanjang tulisan ini, bukan karena Słowacki istimewa, melainkan karena ia kebetulan menjadi salah satu kasus paling jelas untuk melihat bagaimana dua kutub pemikiran ini bekerja, kapan salah satunya unggul, dan kapan keduanya justru perlu berjalan beriringan.
Mengenali Dua Kutub Ini Lebih Dekat
Słowacki adalah contoh ekstrem dari pemikir idealis-fiksi. Ia menyebut matematika bukan sekadar alat ukur, melainkan bahasa pertumbuhan itu sendiri. Dalam salah satu tulisannya, ia menggambarkan pepohonan sebagai "solusi agung dari sebuah masalah matematika", seolah setiap cabang dan ranting adalah jawaban dari persoalan angka yang sedang diselesaikan alam semesta secara diam-diam. Bagi pemikir semacam ini, gagasan tidak sekadar mencatat pola. Gagasan menangkap sesuatu yang lebih dalam, yaitu prinsip yang menggerakkan pola itu sendiri.
Pemikir akademis-empiris punya kekuatan yang sangat berbeda. Ia tidak tertarik pada visi besar sebelum visi itu bisa diuji. Ia lebih suka mengumpulkan satu per satu keping fakta, menyusunnya, mengklasifikasikannya, lalu baru berani bicara. Kalau pemikir idealis-fiksi bergerak dari atas ke bawah, dari gagasan besar menuju detail, pemikir akademis-empiris bergerak dari bawah ke atas, dari detail menuju kesimpulan.
Dua tipe pemikir ini bisa dibedakan lewat tiga hal sederhana. Dari mana asal gagasannya, apakah lahir dari intuisi dan perenungan, atau dari observasi dan literatur. Bagaimana ia bicara, apakah lewat metafora dan simbol, atau lewat istilah teknis dan klasifikasi. Dan apa yang ia kejar sebagai kebenaran, apakah makna yang terasa benar secara mendalam, atau fakta yang bisa dibuktikan salah jika memang salah.








