Lalu dia menjawab, katanya:
Hatimu menyimpan dalam keheningan rahasia siang dan malam.
Namun telingamu mendambakan suara pengetahuan hatimu.
Kamu akan mengungkapkan dengan kata-kata apa yang selalu kamu ketahui dalam pikiranmu.

Demikianlah kutipan puisi Kahlil Gibran yang menyiratkan tentang Diri Transenden—bagian diri kita yang terdalam.

Namun sebelum membahas lebih jauh tentang Diri Transenden, terlebih dahulu kita berkenalan dengan Diri yang Dikonseptualisasikan (Conceptualized Self atau Self as Content), yaitu kumpulan narasi, label, aturan, dan penilaian yang kita yakini tentang diri sendiri. Sering kali, narasi yang kita bangun tentang diri sendiri sarat akan subjektivitas dan cenderung kaku. Misalnya, kita memandang diri sendiri sebagai orang yang tidak berharga karena kurangnya kasih sayang yang kita dapatkan. Tanpa disadari, kita mendefinisikan Diri berdasarkan situasi yang kita alami atau perlakuan orang lain terhadap kita.

Padahal, sebagaimana tersirat dalam kutipan puisi Kahlil Gibran, Diri kita tidak semata-mata ditentukan oleh situasi atau pengalaman yang terjadi di luar diri kita. Ada bagian dari Diri yang lebih luas daripada segala narasi yang kita bangun tentang diri sendiri. Justru, kesadaran kita mengajak kita untuk mendengarkan kembali gema pengetahuan yang berasal dari lubuk hati terdalam. Gagasan ini sejalan dengan konsep Self-as-Context dalam Acceptance and Commitment Therapy (ACT).

Apa yang terjadi di dalam Diri kita memiliki banyak gambaran yang dapat kita temukan di alam semesta. Bayangkan kesadaran Anda tentang Diri sebagai langit. Langit bersifat tetap dan menjadi ruang tempat berbagai fenomena berlangsung, mulai dari perubahan cuaca, dinamika fenomena alam, hingga pergantian siang dan malam. Semua itu dapat diamati dari perspektif langit. Meski berbagai fenomena tersebut terus berubah dan silih berganti, langit tetap menjadi ruang yang menaunginya (utuh dan tidak berubah).

Contoh lain, ombak di lautan luas terus bergerak, pasang dan surut silih berganti. Namun, samudra menjadi ruang tempat ombak-ombak itu bergerak dan berubah. Baik langit maupun samudra menggambarkan perspektif kesadaran yang luas, yang memungkinkan kita mengamati berbagai pengalaman tanpa harus terjebak di dalamnya.

Apa pun yang terjadi di sekitar kita, pikiran, perasaan, dan pengalaman kita dapat terus berubah. Namun, kita tidak harus mendefinisikan diri sepenuhnya berdasarkan apa yang kita alami. Dalam perspektif Acceptance and Commitment Therapy (ACT), inilah yang dikenal sebagai Self-as-Context: kemampuan untuk mengambil jarak dari pengalaman internal dan menyadarinya tanpa menjadikan pengalaman tersebut sebagai keseluruhan identitas diri.

Kesadaran kita yang lebih luas dapat menjadi jalan untuk terhubung dengan apa yang kita maknai sebagai Diri Transenden, yaitu bagian terdalam dari kesadaran yang bijaksana, arif, dan spiritual. Semakin kita mampu mengambil jarak dari pikiran dan perasaan yang muncul dan terhubung dengan Diri Transenden, semakin kita memiliki ruang untuk mendengarkan kebijaksanaan batin dan menentukan arah hidup berdasarkan hal-hal yang benar-benar kita anggap penting atau berharga (sebagai catatan, Diri Transenden merupakan bagian yang paling dekat dengan Yang Mahakuasa—jika Anda meyakini keberadaan-Nya—atau dengan merujuk pada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri sesuai dengan keyakinan masing-masing).

Ketika pilihan dan tindakan kita semakin selaras dengan nilai-nilai yang kita yakini—diarahkan oleh Diri Transenden—hidup dapat terasa lebih bermakna. Bukan karena kita terbebas dari penderitaan atau selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan, melainkan karena kita belajar menjalani kehidupan dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan komitmen terhadap hal-hal yang sungguh berarti bagi kita.

Bila saat ini Anda merasa frustrasi dan terjebak dalam perilaku yang merugikan diri sendiri, cobalah hening sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: dari mana dorongan bertindak ini muncul? Apakah dari Diri yang sarat kerentanan dan egoisme, atau Diri Transenden?

Apakah Anda seperti seorang nelayan yang memilih tetap bertahan di atas perahu, terombang-ambing dan tersesat di tengah gelap gulita malam—meski dari kejauhan, pendar lampu mercusuar tak henti-hentinya menunjukkan arah bagi perjalanan Anda?

Menuju mercusuar membutuhkan usaha—mengayuh, mengubah arah, dan menghadapi ombak secara langsung. Rasa lelah atau takut gagal sering kali menahan seseorang untuk mengambil alih kendali kemudi.

Bagaimana kalau sebenarnya yang kita butuhkan adalah berhenti mengulang pola yang sama dan mulai bertindak secara berbeda? Jika ada keraguan, bagaimana kalau kita hanya perlu sedikit memaksakan diri untuk mulai bergerak?

| Menghadir & Berterima

Regards,
Andrea Han

Inspired by:

Acceptance and Commitment Therapy

DBT-Informed