Menurut Anda, apa yang paling penting dalam psikoterapi?

Kompetensi psikolog? Kemampuan psikolog dalam membangun hubungan yang aman? Kepribadian psikolog? Atau pendekatan yang digunakan?

Mungkin, salah satu hal yang masih jarang dibahas adalah kesediaan (willingness) klien untuk terlibat dalam proses terapi. Sebab, secara umum, psikoterapi merupakan proses yang diwarnai oleh interaksi dinamis antara psikolog dan klien. Artinya, keduanya memiliki peran dalam menentukan arah dan keberlangsungan proses terapi itu sendiri.

Siang itu, klien saya bertanya, “Apa (bagian) dari meditasi ini yang membantu? Saya merasa sangat terbantu.”

Mendengar pertanyaan itu, saya berhenti sejenak. Saya teringat pada momen-momen ketika sesekali memikirkan klien ini dan merasa takjub melihat kemajuannya—menyaksikan bagaimana dirinya bertransformasi.

Tentu saja, saya pernah merenungkan apa yang membuat klien ini mengalami perubahan. Setelah memikirkannya, saya sampai pada satu kesimpulan: kesediaan.

Oh iya, transformasi di sini bukan berarti kita harus menjadi sosok yang baru, mengalami hal-hal luar biasa, atau bahkan mencapai pencerahan. Saya cenderung skeptis terhadap penggambaran transformasi yang berlebihan seperti itu.

Sebaliknya, transformasi lebih merupakan proses untuk kembali terhubung dengan karakter yang sebenarnya telah melekat dalam diri kita sejak awal (inheren atau terberi)—sesuatu yang sudah ada, tetapi perlu disadari dan dikembangkan.

Hal yang menarik dari klien tersebut adalah ia selalu datang dengan gelas setengah penuh (ada ruang yang tersedia untuk mempertimbangkan perspektif baru). Uniknya, kami cukup sering beradu argumen, tetapi di saat yang sama, kami juga lebih sering tertawa bersama. Saya senang menyadari bahwa kami memiliki selera humor yang cocok.

Ada sesuatu yang menarik dari sikap kritis klien saya. Saya melihatnya sebagai sebuah pesan: “Saya ingin berbagi apa yang saya rasakan berdasarkan pengalaman masa lalu saya, yang tampaknya berbeda dari konsep yang Anda sampaikan.”

Ngomong-ngomong, ketika berbincang dengan orang lain, saya juga kadang menemukan bahwa di balik adu argumen, terkadang terselip pesan, “Saya juga tahu sesuatu, lho.”

Ada ruang kesediaan dan keterbukaan dalam dirinya untuk berproses, yang bagi saya ini tampak seperti kerendahan hati.

Intinya, menurut saya, sebelum bertemu dengan profesional, ada baiknya kita juga menyiapkan diri. Profesional akan mempersiapkan sesi, tetapi proses psikoterapi juga melibatkan apa yang kita bawa ke dalamnya: pengalaman, keyakinan, harapan, keraguan, dan kesediaan untuk terlibat.

Bayangkan kita datang dengan sebuah gelas yang telah terisi oleh berbagai pengalaman dan pemahaman tentang diri sendiri. Kita tidak perlu mengosongkannya begitu saja, apalagi menganggap bahwa semua yang ada di dalamnya keliru. Pengalaman dan keyakinan itu telah menjadi bagian dari cara kita memahami kehidupan.

Namun, mungkin kita bisa menyisakan sedikit ruang, agar kita punya kesempatan untuk melihat, mempertimbangkan, dan mengolah perspektif yang berbeda.

Tentu, menyediakan ruang bukan berarti harus selalu setuju. Kita tetap boleh bertanya, meragukan, bahkan tidak sependapat dengan apa yang disampaikan. Sebab, keterbukaan bukan tentang menerima segala sesuatu tanpa pertimbangan, melainkan tentang bersedia mengeksplorasi kemungkinan sebelum memutuskan apa yang bermakna bagi diri kita.

Dan jika hari ini ruang itu terasa belum tersedia, tidak apa-apa. Kita tidak harus memaksakan diri untuk langsung terbuka. Terkadang, rasa aman dan kesediaan untuk berproses justru tumbuh perlahan, seiring dengan terbentuknya hubungan yang membuat kita merasa cukup nyaman untuk mencoba.

Psikoterapi tidak menuntut kita datang dengan pikiran kosong atau kesiapan yang sempurna. Kita hanya perlu memiliki ruang, sekecil apa pun, untuk bersama-sama mengeksplorasi kemungkinan baru.

Selamat berproses!