Jakarta — Belajar tidak selalu berarti seseorang berdiri di depan ruangan untuk memberikan materi kepada peserta. Dalam ruang yang tepat, pengalaman sehari-hari juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang sama pentingnya. Semangat tersebut hadir dalam Keranggan Growth Lab: Local Branding & Marketing yang berlangsung di Ekowisata Keranggan pada Selasa, 11 Agustus 2026, ketika masyarakat, Exchange Participants (EPs), Local Volunteers (LVs), dan Organizing Committee (OC) bertemu untuk belajar melalui diskusi dan praktik bersama.

Sejak awal kegiatan, peserta tidak hanya diarahkan untuk menjadi pendengar. Setelah sesi pembukaan dan check-in, pembelajaran dimulai dengan menggali terlebih dahulu pemahaman masyarakat mengenai pemasaran digital. Dari titik tersebut, materi kemudian dikembangkan menggunakan contoh yang dekat dengan aktivitas sehari-hari, seperti penggunaan WhatsApp dan Instagram untuk memperkenalkan produk.
Pendekatan tersebut membuat pembahasan mengenai pemasaran terasa lebih dekat. Peserta diperkenalkan pada berbagai cara sederhana untuk menghasilkan foto dan video produk yang lebih menarik, mulai dari memanfaatkan cahaya alami, memilih latar yang bersih, hingga memperlihatkan proses di balik sebuah produk. Konsistensi dalam membuat konten dan membangun kepercayaan pelanggan juga menjadi bagian dari pembelajaran.
Namun, proses belajar tidak berhenti ketika materi selesai disampaikan. Pemahaman tersebut kemudian diuji melalui workshop yang mempertemukan peserta dari latar belakang yang berbeda dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka bersama-sama mengerjakan empat tugas yang berhubungan dengan pesan sebuah produk, penyampaian ide, hingga penyusunan rencana pemasaran.
Dalam proses tersebut, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima materi. Pengalaman mereka mengenai produk dan lingkungan sekitar menjadi bagian dari diskusi, sementara EPs dan LVs dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah strategi perlu disesuaikan dengan kondisi nyata. Interaksi tersebut menciptakan proses pembelajaran yang lebih dua arah, karena setiap kelompok harus mengolah materi sekaligus mempertimbangkan perspektif orang yang akan menggunakannya.
“Menurut saya, bagian workshop justru membuat pembelajaran terasa lebih nyata karena kami tidak hanya mendengarkan materi. Kami harus berdiskusi dan mencoba membuat sesuatu bersama, sehingga bisa melihat bagaimana sebuah ide diterapkan dalam kondisi yang sebenarnya,” ujar Faizan sebagai Exchange Participant.
Ruang pertukaran pengalaman juga diperluas melalui kehadiran TUKR. Peserta mengenal bagaimana minyak jelantah yang biasanya dianggap sebagai limbah rumah tangga dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan menjadi biofuel dan energi yang lebih berkelanjutan. Dari sesi tersebut, peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai pengelolaan minyak jelantah, tetapi juga melihat contoh bagaimana sebuah kebiasaan sehari-hari dapat dikaitkan dengan peluang dan dampak yang lebih luas.
Setelah makan siang, suasana belajar berubah menjadi lebih ringan melalui permainan Guess the Logo & Brand. Peserta dibagi ke dalam lima kelompok dan berlomba mengenali berbagai logo yang ditampilkan. Aktivitas tersebut menjadi jeda sekaligus cara lain untuk memperhatikan bagaimana simbol dan identitas visual dapat membuat sebuah brand mudah dikenali.
Menariknya, pembelajaran pada hari tersebut juga melibatkan proses melihat kembali apa yang telah dilakukan. Dalam sesi Reflection, setiap realization group mengevaluasi presentasi kelompok dengan mencatat sedikitnya tiga poin mengenai kekuatan dan hal yang masih dapat dikembangkan. Evaluasi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk tidak hanya menilai hasil, tetapi juga memahami bagaimana proses penyampaian materi dapat dibuat lebih efektif.
“Dari sesi evaluasi, saya belajar bahwa sebuah kegiatan tidak berhenti ketika materi sudah disampaikan. Kita juga perlu melihat kembali apa yang berhasil, apa yang masih kurang, dan bagaimana masukan dari orang lain bisa digunakan untuk memperbaiki kegiatan berikutnya,” ujar Adam, salah satu Local Volunteer.
Pembelajaran tersebut kemudian diteruskan melalui working hour. Kelompok 1 dan 3 memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan kegiatan penyuluhan berikutnya, sedangkan Kelompok 2 mengembangkan pertanyaan diskusi dan mengumpulkan dokumentasi untuk presentasi proyek akhir. Setiap kelompok menggunakan waktu tersebut berdasarkan kebutuhan masing-masing, menunjukkan bahwa hasil dari satu sesi dapat langsung menjadi dasar untuk pekerjaan berikutnya.
Melalui Keranggan Growth Lab, proses belajar tidak hanya menghasilkan pemahaman mengenai local branding dan marketing, tetapi juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan sebuah ide. Ketika pengalaman masyarakat bertemu dengan perspektif baru dari EPs, LVs, dan OC, pembelajaran dapat berkembang menjadi proses bertukar pengetahuan yang lebih kontekstual.
Kegiatan ini diharap dapat membawa pengalaman bagi seluruh peserta untuk lebih terbuka terhadap proses belajar dua arah, mengolah masukan menjadi perbaikan, serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui kolaborasi dalam kegiatan dan pengembangan masyarakat selanjutnya.







