Tangerang Selatan — AIESEC in UIN Jakarta membekali Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) dengan kemampuan mengembangkan konten visual dan strategi promosi digital melalui Tourism Capacity Lab: Photography and Digital Promotion pada 3 Agustus 2026. Kegiatan ini menggabungkan pembelajaran dasar fotografi, praktik pengambilan gambar, strategi media sosial, hingga penyusunan ide bisnis untuk membantu peserta memahami bagaimana potensi lokal dapat dikomunikasikan secara lebih menarik melalui media digital.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, pengenalan rangkaian acara, serta sesi check-in yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk berbagi perspektif sebelum memasuki materi utama. Setelah roll dance dan sambutan dari perwakilan AIESEC, peserta diperkenalkan kepada pembicara yang akan membawakan materi fotografi dan promosi digital.

Materi pertama, See It Differently: Basic of Photography, memperkenalkan fotografi sebagai bagian dari proses menyampaikan cerita secara visual. Peserta mempelajari komposisi seperti rule of thirds, leading lines, dan framing, sekaligus memahami penggunaan cahaya, sudut pengambilan gambar, serta perspektif. Pembahasan juga mencakup perbedaan antara foto yang sekadar mendokumentasikan objek dan foto yang mampu menyampaikan sebuah cerita.

Pengetahuan tersebut kemudian langsung diterapkan melalui Shoot the Room: Photography Workshop. EPs dan LVs mendapatkan tiga tantangan fotografi, yaitu mencari frame within a frame, menyampaikan sebuah cerita hanya melalui satu foto, serta mengubah objek biasa menjadi lebih menarik dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda.

Praktik tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat lingkungan di sekitar mereka secara lebih kreatif. Sebuah objek yang sebelumnya terlihat sederhana dapat menghasilkan visual yang berbeda ketika peserta memperhatikan komposisi, perspektif, dan cara menyampaikan cerita melalui gambar.

Pembelajaran kemudian beralih dari proses menghasilkan foto menuju bagaimana visual tersebut digunakan untuk menjangkau audiens. Dalam sesi From Lens to Feed: Digital Promotion for Tourism, peserta berdiskusi mengenai branding visual destinasi, strategi caption, penggunaan hashtag dan SEO, hingga pengembangan konsep kampanye di media sosial.

Peserta juga diperkenalkan pada pentingnya konsistensi identitas visual sebuah destinasi. Pemilihan warna, gaya visual, hook pada awal caption, storytelling, dan call-to-action dibahas sebagai bagian yang dapat menentukan bagaimana sebuah destinasi dikenali dan menarik perhatian audiens digital.

“Yang aku suka dari sesi ini adalah fotografi ternyata bukan cuma tentang mengambil gambar yang bagus. Kita juga harus tahu cerita apa yang ingin disampaikan dan bagaimana foto itu bisa membuat orang tertarik untuk mengenal suatu tempat lebih jauh,” ujar Naura, salah satu peserta kegiatan.

Setelah sesi materi dan istirahat, pembelajaran dilanjutkan melalui Campaign Lab: Pokdarwis Situpam Time. Peserta dibagi ke dalam kelompok untuk merancang dua strategi bisnis bagi Pokdarwis Situpam. Strategi pertama berfokus pada pengembangan digital marketing dengan menganalisis akun Instagram Situpam, sementara strategi kedua mengembangkan salah satu gagasan branding, yaitu Situpam sebagai historical place, creative and youth hub space, atau urban farming and green space activation.

Setiap kelompok kemudian mempresentasikan strategi yang telah mereka susun. Melalui sesi tersebut, peserta tidak hanya mengaplikasikan materi fotografi dan promosi digital, tetapi juga belajar menghubungkan identitas sebuah tempat dengan target audiens dan pendekatan komunikasi yang sesuai.

AIESEC in UIN Jakarta Dorong Peserta Mengubah Potret Lokal Menjadi Strategi Promosi Pariwisata Digital
AIESEC in UIN Jakarta Dorong Peserta Mengubah Potret Lokal Menjadi Strategi Promosi Pariwisata Digital — AIESEC in UIN Jakarta

“Menurutku bagian Campaign Lab membuat materi sebelumnya terasa lebih nyata. Kami harus melihat sebuah tempat bukan cuma dari apa yang ada di sana, tetapi juga memikirkan bagaimana potensi tersebut bisa dikemas supaya punya identitas dan menarik bagi orang lain,” ujar Davin, salah satu peserta.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi work hour yang digunakan untuk mempersiapkan materi presentasi bagi agenda Keranggan Growth Lab pada hari berikutnya. Peserta menyusun dan menyempurnakan materi yang akan digunakan sehingga pembelajaran yang diperoleh pada hari tersebut dapat berlanjut ke kegiatan berikutnya.

Melalui Tourism Capacity Lab: Photography and Digital Promotion, AIESEC in UIN Jakarta memberikan pengalaman belajar yang menghubungkan kemampuan kreatif dengan kebutuhan promosi pariwisata. Peserta tidak hanya belajar mengambil gambar, tetapi juga memahami bagaimana sebuah visual dapat menjadi bagian dari identitas, cerita, dan strategi komunikasi sebuah destinasi. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi EPs dan LVs untuk berkontribusi dalam memperkenalkan potensi pariwisata lokal melalui pendekatan digital yang lebih terarah.