Tangerang Selatan — Pada 11 Agustus 2026 AIESEC in UIN Jakarta kembali menghadirkan kegiatan pembelajaran bersama masyarakat melalui Keranggan Growth Lab: Local Branding, Packaging & Marketing di Ekowisata Keranggan. Kegiatan ini mempertemukan Exchange Participants (EPs), Local Volunteers (LVs), dan komunitas lokal untuk memahami bagaimana identitas produk, kemasan, serta strategi pemasaran dapat dikembangkan agar produk lokal memiliki daya tarik yang lebih kuat.
Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan dan interaksi antara peserta sebelum memasuki pembahasan utama. Setelah pembukaan, peserta mendapatkan pengantar mengenai hubungan antara branding, kemasan, dan persepsi konsumen. Melalui cerita mengenai perjalanan sebuah usaha lokal, peserta diajak melihat perubahan yang dapat terjadi ketika produk yang sebelumnya dipasarkan dengan kemasan sederhana mulai memperhatikan tampilan dan fungsi kemasannya.
Pembahasan tersebut kemudian berkembang pada bagaimana produk lokal dapat menjangkau konsumen di luar pengunjung yang datang langsung ke Keranggan. Peserta diperkenalkan pada penggunaan konten digital sebagai sarana untuk membangun kepercayaan terhadap produk. Beberapa contoh video promosi dianalisis bersama dengan memperhatikan unsur cerita, visual, serta call-to-action yang dapat mendorong audiens untuk mengenal atau membeli produk.
Menurut Naura, salah satu peserta, pembahasan mengenai kemasan memberikan perspektif baru mengenai cara konsumen melihat sebuah produk. “Dari kegiatan ini aku jadi lebih melihat bahwa kemasan bukan cuma soal tampilan. Cara produk diperkenalkan juga bisa memengaruhi bagaimana orang memahami dan tertarik untuk mencobanya,” ujarnya.
Setelah memperoleh dasar mengenai branding dan pemasaran, peserta masuk ke sesi praktik. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok dan mendapatkan mystery box berisi bahan pangan lokal seperti pisang, singkong, dan talas. Setiap kelompok kemudian ditantang mengembangkan sebuah produk, mulai dari menentukan nama, merancang kemasan, hingga menyusun cerita singkat yang dapat memperkuat identitas produk.
Proses tersebut tidak berhenti pada rancangan visual. Peserta juga mendiskusikan target pasar dan alasan produk tersebut layak ditawarkan kepada konsumen. Mereka kemudian memikirkan kemungkinan kolaborasi dengan pihak lain, termasuk komunitas dan pelaku usaha lokal, sebagai bagian dari strategi agar produk dapat terus berkembang dan memiliki jalur distribusi yang lebih luas.
Pada sesi From Marketing to Sales, peserta menyusun pendekatan pemasaran dengan menentukan produk yang akan dipromosikan, memilih platform digital, serta mencari referensi konten penjualan yang dinilai efektif. Elemen dari referensi tersebut kemudian dianalisis untuk melihat bagian mana yang dapat diterapkan dalam strategi promosi produk yang telah mereka kembangkan.
Gagasan tersebut selanjutnya diterjemahkan menjadi brand message. Setiap kelompok merumuskan pesan utama yang ingin disampaikan kepada target pasar dan melakukan pitching seolah-olah sedang menawarkan produk kepada konsumen. Dari sini, peserta belajar bahwa sebuah produk membutuhkan pesan yang jelas agar karakter dan keunggulannya dapat tersampaikan secara konsisten.
“Seru karena kami benar-benar diminta membuat produk dari awal, lalu memikirkan bagaimana cara menjualnya. Jadi kami belajar bahwa setelah punya produk, masih banyak hal yang harus dipikirkan supaya orang tertarik membelinya,” ujar Davin, salah satu peserta kegiatan.

Pengalaman tersebut dilanjutkan dengan pembuatan materi promosi dan latihan live selling. Peserta diberi kesempatan untuk melatih kemampuan menyampaikan nilai sebuah produk secara spontan, termasuk ketika harus menjelaskan barang sederhana dengan cara yang menarik dan meyakinkan.
Selain kegiatan praktik, peserta juga mengunjungi booth TUKR untuk melihat lebih dekat aktivitas dan produk yang tersedia. Setelah istirahat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan permainan, refleksi kelompok, serta waktu kerja untuk mengembangkan tugas lanjutan.
Melalui Keranggan Growth Lab: Local Branding, Packaging & Marketing, AIESEC in UIN Jakarta menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan konsep pemasaran dengan praktik langsung. Kolaborasi antara EPs, LVs, dan komunitas lokal memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat bahwa pengembangan produk tidak hanya berkaitan dengan kualitas barang, tetapi juga bagaimana identitas, cerita, kemasan, dan strategi pemasaran dibangun secara terpadu.








