Tangerang Selatan, 30 September 2026 --- Sebelum sebuah proyek dapat menciptakan dampak, memahami siapa yang akan diajak bekerja sama dan persoalan yang ingin diselesaikan menjadi langkah yang penting. Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Connecting with OP Taker: Impact Driven Onboarding yang mempertemukan Exchange Participants (EPs), Local Volunteers (LVs), Organizing Committee, serta perwakilan mitra di Ekowisata Keranggan pada Rabu, 22 Juli 2026.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengenalan terhadap dua mitra yang akan menjadi bagian dari perjalanan proyek, yaitu Ekowisata Keranggan dan Rumah Batik Palbatu. Melalui sesi OP Taker Speech, peserta memperoleh gambaran mengenai latar belakang, tujuan, serta aktivitas yang dijalankan oleh masing-masing mitra.
Perwakilan Ekowisata Keranggan, Pak Basith, memperkenalkan visi pengembangan desa yang mengedepankan aspek lingkungan. Sementara itu, melalui video pengenalan dari Rumah Batik Palbatu, peserta diperkenalkan pada perjalanan komunitas batik tersebut, termasuk salah satu programnya, Batik Tulis. Kedua sesi tersebut memberikan konteks awal sebelum peserta mulai memahami permasalahan yang akan mereka hadapi selama proyek.
Pemahaman tersebut kemudian diperdalam melalui sesi Grounding the Missions. Peserta diajak melihat kondisi kedua mitra tidak hanya dari apa yang terlihat, tetapi juga melalui permasalahan dan akar penyebab yang melatarbelakanginya. Untuk Ekowisata Keranggan, peserta diperkenalkan pada tantangan penurunan jumlah pengunjung serta faktor-faktor yang berkaitan dengan pengembangan destinasi.
Sementara itu, Rumah Batik Palbatu diperkenalkan melalui konteks keberadaan batik autentik yang dapat menjadi alternatif pengalaman budaya tanpa harus melakukan perjalanan jauh dari Jakarta. Peserta juga diperkenalkan pada sejumlah permasalahan dan root causes yang menjadi dasar bagi mereka untuk memahami kebutuhan mitra secara lebih menyeluruh.
"Sebelum mencari solusi, kita perlu memahami terlebih dahulu masalah yang sebenarnya ingin diselesaikan. Dengan mengenal kondisi dan kebutuhan partner, peserta dapat melihat bahwa dampak bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi tentang menjawab kebutuhan yang nyata," ujar Sheril sebagai Local Volunteer.
Pemahaman tersebut kemudian dibawa keluar ruangan melalui sesi Let's Explore Ekowisata Keranggan. Peserta mengamati kawasan secara langsung sekaligus mengumpulkan foto dan video yang nantinya dapat digunakan dalam rangkaian kegiatan proyek. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat kondisi destinasi secara langsung, bukan hanya berdasarkan penjelasan yang mereka terima sebelumnya.
Eksplorasi kemudian dilengkapi dengan sesi Anchoring Connections bersama Pak Alwani. Ia membagikan cerita mengenai sejarah dan perkembangan Ekowisata Keranggan serta visinya untuk menjadikan desa tersebut sebagai kawasan hijau dan destinasi ekowisata. Dalam pemaparannya, peserta juga diajak memahami bahwa pengembangan kawasan masih memiliki ruang yang besar untuk dilakukan.
Sesi berbagi tersebut membuka kesempatan bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan dan menghubungkan informasi yang mereka peroleh dari lapangan dengan kondisi yang dijelaskan oleh pihak pengelola. Dengan demikian, pengalaman eksplorasi tidak berhenti pada observasi, tetapi berkembang menjadi proses memahami perspektif dari pihak yang secara langsung terlibat dalam pengembangan kawasan.
Setelah mendapatkan gambaran mengenai kedua mitra, peserta memasuki tahap Let's Break Down. EPs dan LVs dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membedah studi kasus Ekowisata Keranggan dan Rumah Batik Palbatu menggunakan pendekatan 5W+1H. Mereka mendiskusikan latar belakang, permasalahan, pihak yang terlibat, hingga kemungkinan solusi yang dapat dikembangkan.
Proses tersebut kemudian dilanjutkan melalui Show Your Take. Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis dan solusi yang telah mereka susun. Presentasi tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan jawaban, tetapi juga membuka diskusi antarkelompok melalui pertanyaan dan tanggapan terhadap gagasan yang disampaikan.
"Ketika peserta mulai menghubungkan masalah, penyebab, dan kemungkinan solusi dalam satu pembahasan, mereka mulai memahami bahwa setiap proyek membutuhkan proses berpikir yang terarah. Kolaborasi menjadi penting karena setiap orang dapat membawa perspektif yang berbeda," tambah Naura, Organizing Committe of Program and Partnership.
Rangkaian kegiatan tersebut kemudian ditutup melalui sesi feedback dan check-out. Peserta memberikan tanggapan terhadap pengalaman yang telah dijalani sebelum melakukan dokumentasi bersama dan mengakhiri agenda.
Connecting with OP Taker: Impact Driven Onboarding menjadi langkah awal bagi EPs dan LVs untuk membangun pemahaman sebelum terjun lebih jauh dalam proyek. Dari mengenal mitra, memahami tantangan, melihat kondisi lapangan, hingga memetakan persoalan melalui 5W+1H, peserta mulai membangun dasar berpikir yang diperlukan untuk menciptakan kontribusi yang relevan.
Kegiatan ini diharap dapat membawa pemahaman yang lebih mendalam mengenai kebutuhan dan potensi mitra, sekaligus mendorong EPs dan LVs untuk mengembangkan solusi yang lebih terarah, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak sepanjang perjalanan proyek.






