Jakarta, 30 September 2026 — Pertemuan yang bermakna tidak selalu membutuhkan kegiatan yang besar. Terkadang, perkenalan sederhana, permainan bersama, dan kesempatan untuk saling mendengarkan sudah cukup untuk membuat orang-orang dari latar belakang berbeda merasa lebih dekat. Semangat tersebut hadir dalam Charity Learning Project yang berlangsung di PYI Yatim & Zakat Cabang Cinere pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Charity Learning Project
Charity Learning Project — Dok. Pribadi

Kegiatan mempertemukan Exchange Participants (EPs), Local Volunteers (LVs), dan anak-anak dalam satu ruang yang dirancang untuk menciptakan interaksi yang hangat dan menyenangkan. Sejak sesi pembukaan, peserta diajak untuk saling mengenal melalui check-in dan perkenalan diri. Anak-anak, EPs, maupun LVs mendapat kesempatan untuk memperkenalkan diri dan berbagi sedikit cerita mengenai asal daerah, negara, maupun usia mereka.

Setelah suasana mulai mencair, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil berdasarkan sistem EP Buddy. Setiap kelompok terdiri dari seorang EP, dua EP Buddies, serta beberapa anak. Pembagian tersebut memberikan ruang yang lebih intim bagi peserta untuk berkomunikasi, bertukar cerita, dan menjawab berbagai pertanyaan bersama.

Bagi EPs dan LVs, interaksi tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal anak-anak secara lebih personal. Sementara bagi anak-anak, kehadiran peserta dari berbagai latar belakang membuka pengalaman baru untuk berkomunikasi dan mengenal orang-orang yang sebelumnya belum mereka temui.

“Menurut saya, bagian yang paling berkesan adalah ketika kami bisa berinteraksi secara langsung dengan anak-anak. Awalnya mungkin terasa canggung karena belum saling mengenal, tetapi setelah berbicara dan bermain bersama, suasananya menjadi jauh lebih dekat,” ujar Julia, Exchange Participant.

Kedekatan tersebut kemudian dibangun melalui berbagai aktivitas kreatif dan permainan. Dalam sesi Fold, Create and Smile!, anak-anak diajak membuat origami dengan mengikuti pola yang telah disediakan. Aktivitas sederhana ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkarya sekaligus melatih ketelitian dan mengikuti instruksi secara menyenangkan.

Suasana kemudian menjadi semakin aktif melalui Focus Frenzy. Peserta mengikuti berbagai gerakan yang diperagakan oleh fasilitator secara bersama-sama. Tidak ada batas antara EP, LV, maupun anak-anak ketika seluruh peserta berusaha mengikuti gerakan yang diberikan. Aktivitas tersebut mendorong koordinasi, keberanian untuk berpartisipasi, serta menciptakan suasana yang penuh tawa.

Keceriaan berlanjut melalui permainan Pantomime: Guess Who?. Para peserta harus menebak profesi yang diperagakan tanpa menyebutkan namanya. Setiap kelompok bekerja sama untuk menemukan jawaban, hingga kelompok Michal bersama anak-anak berhasil memperoleh tiga poin dan menjadi pemenang.

Namun, di balik berbagai permainan tersebut, terdapat ruang untuk sesuatu yang lebih personal. Melalui Tree of Kindness, setiap anak diberikan kesempatan untuk menuliskan harapan, keinginan, atau pesan bermakna pada Post-it. Pesan-pesan tersebut kemudian ditempelkan pada sebuah pohon harapan sebagai simbol dari berbagai cita-cita yang dimiliki para peserta.

Ketika seluruh pesan telah terkumpul, pesan-pesan tersebut dibacakan kembali di hadapan semua peserta. Momen tersebut memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mendengarkan harapan satu sama lain dan menyadari bahwa setiap anak memiliki cerita serta keinginan yang layak untuk didengar.

Charity Learning Project
Charity Learning Project — Dok. Pribadi

“Melihat anak-anak menuliskan harapan mereka dan kemudian mendengarnya dibacakan membuat saya sadar bahwa kegiatan seperti ini bukan hanya tentang memberikan sesuatu. Mendengarkan dan meluangkan waktu untuk mereka juga merupakan bentuk perhatian yang berarti,” ujar Qilla, Local Volunteer.

Semangat berbagi kemudian diwujudkan melalui penyerahan paket sembako kepada pihak PYI Yatim & Zakat Cabang Cinere. Paket tersebut diterima oleh Pak Amin bersama dengan sertifikat apresiasi dari AIESEC. Setelahnya, EPs dan LVs turut membantu membagikan makanan ringan kepada anak-anak, menciptakan penutup kegiatan yang sederhana tetapi penuh kebahagiaan.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kontribusi tidak selalu diukur dari seberapa besar sesuatu yang diberikan. Waktu, perhatian, kesempatan untuk bermain, hingga kesediaan untuk mendengarkan dapat menjadi bagian dari pengalaman yang berarti bagi orang lain.

Melalui Charity Learning Project, peserta diharap tidak hanya membawa pulang pengalaman berinteraksi dengan anak-anak, tetapi juga pemahaman mengenai pentingnya menciptakan ruang yang aman dan menyenangkan bagi setiap individu untuk berkomunikasi, berkarya, dan menyampaikan harapannya. Kegiatan ini diharap dapat membawa semangat berbagi yang terus diwujudkan melalui tindakan sederhana di lingkungan masing-masing.