Jakarta, 30 September 2026 — Sebuah produk lokal tidak hanya membutuhkan kualitas untuk dikenal. Cara produk tersebut diperkenalkan, difoto, diceritakan, dan dibagikan kepada orang lain turut menentukan bagaimana masyarakat memandangnya. Pemahaman tersebut menjadi bagian dari Keranggan Growth Lab: Local Branding & Marketing yang mempertemukan masyarakat Keranggan dengan pembelajaran praktis mengenai pemasaran dan penguatan identitas produk pada Selasa, 11 Agustus 2026 di Ekowisata Keranggan.

Keranggan Growth Lab: Local Branding & Marketing
Keranggan Growth Lab: Local Branding & Marketing — Dok. Pribadi

Kegiatan diawali dengan pengenalan mengenai digital marketing yang dekat dengan keseharian masyarakat. Alih-alih memperkenalkan strategi pemasaran yang kompleks, peserta diajak mengenali kembali platform yang sudah umum digunakan, seperti WhatsApp dan Instagram, sebagai ruang untuk memperkenalkan produk kepada calon pelanggan.

Melalui contoh-contoh sederhana, peserta mempelajari bahwa membuat konten produk tidak selalu membutuhkan peralatan khusus. Pencahayaan alami, latar belakang yang bersih, pengambilan gambar dari beberapa sudut, hingga video singkat yang memperlihatkan proses di balik produk dapat menjadi bagian dari cara membangun daya tarik. Konsistensi dalam membagikan konten juga diperkenalkan sebagai salah satu langkah untuk menjaga keberadaan produk di hadapan pelanggan.

Pembelajaran kemudian bergeser dari sekadar bagaimana produk terlihat menjadi bagaimana produk dapat dipercaya. Peserta diajak memahami pentingnya membangun hubungan dengan pelanggan melalui komunikasi yang jelas dan konsisten. Dengan demikian, pemasaran tidak hanya dipandang sebagai aktivitas untuk menjual, tetapi juga sebagai proses memperkenalkan nilai dan membangun kepercayaan terhadap produk lokal.

“Bagi saya, ternyata memasarkan produk tidak harus selalu dengan cara yang rumit. Hal-hal sederhana seperti foto yang jelas, cara bercerita tentang produk, dan konsisten berkomunikasi dengan pelanggan ternyata bisa membuat produk lebih mudah dikenal dan dipercaya,” ujar Michal, peserta Exchange Participant.

Pemahaman tersebut kemudian langsung diterapkan melalui workshop yang melibatkan masyarakat, EP, LV, dan OC dalam satu ruang belajar bersama. Peserta mengerjakan beberapa tugas yang mengajak mereka mengidentifikasi pesan utama sebuah produk, mengembangkan cara penyampaian, hingga menyusun rencana pemasaran. Proses ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk tidak hanya menerima materi, tetapi mencoba mengubah ide menjadi bentuk komunikasi yang lebih konkret.

Salah satu bagian penting dalam workshop adalah bagaimana peserta menentukan pesan yang ingin dibawa oleh sebuah produk. Dari sini, mereka mulai melihat bahwa identitas sebuah brand dapat dibangun melalui cerita yang sederhana tetapi relevan dengan produk dan konsumennya. Diskusi kelompok juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pemahaman dan pengalaman mereka sendiri dalam menjalankan atau memperkenalkan produk.

Di luar pembahasan pemasaran, peserta juga diperkenalkan pada isu pengelolaan minyak jelantah melalui booth TUKR. Sebagai perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan dan daur ulang used cooking oil menjadi biofuel dan energi yang lebih berkelanjutan, TUKR memperlihatkan bahwa aktivitas rumah tangga sehari-hari juga dapat memiliki nilai ketika dikelola dengan tepat. Peserta diperkenalkan pada cara masyarakat dapat berkontribusi dengan mengumpulkan minyak jelantah untuk ditukarkan, alih-alih membuangnya secara sembarangan.

Pengalaman belajar kemudian dibuat lebih interaktif melalui permainan Guess the Logo & Brand. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan berlomba mengenali berbagai logo yang ditampilkan. Selain menciptakan suasana yang lebih santai, permainan tersebut secara tidak langsung memperlihatkan bagaimana identitas visual dapat membuat sebuah brand lebih mudah dikenali.

Setelah seluruh rangkaian pembelajaran, peserta tidak langsung menutup kegiatan. Setiap realization group melakukan evaluasi terhadap presentasi yang telah diberikan, dengan mengidentifikasi kekuatan dan hal yang masih dapat dikembangkan. Sesi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk melihat kembali proses pembelajaran secara kritis dan memberikan masukan berdasarkan pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan.

“Yang paling menarik bagi saya adalah ketika materi langsung dipraktikkan melalui workshop. Dari situ saya jadi lebih memahami bahwa membangun brand bukan hanya tentang membuat sesuatu terlihat bagus, tetapi juga menentukan pesan apa yang ingin orang ingat dari produk tersebut,” ujar Nayla sebagai salah satu Local Volunteer.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan working hour yang dimanfaatkan masing-masing kelompok sesuai kebutuhan. Sebagian peserta mempersiapkan materi untuk kegiatan penyuluhan berikutnya, sementara kelompok lainnya menyusun pertanyaan diskusi dan mengumpulkan dokumentasi untuk kebutuhan presentasi proyek akhir.

Melalui Keranggan Growth Lab, masyarakat diharap dapat membawa pulang pemahaman bahwa potensi produk lokal dapat dikembangkan melalui cara komunikasi yang lebih terarah, konsisten, dan dekat dengan kebutuhan pelanggan. Kegiatan ini diharap dapat membawa pengetahuan praktis bagi masyarakat untuk memperkuat identitas produk, membangun kepercayaan pelanggan, serta melihat peluang pengembangan usaha dari sumber daya yang telah mereka miliki.