Jakarta — Pada 29 Juli 2026 AIESEC in UIN Jakarta menyelenggarakan Tourism Capacity Lab: Tourism Digital Marketing di FDIKOM UIN Jakarta Lantai 6. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian capacity building yang dirancang untuk memperkenalkan strategi pemasaran digital dalam sektor pariwisata sekaligus mengajak Exchange Participants (EP) dan Local Volunteers (LV) memahami bagaimana potensi lokal dapat dikomunikasikan melalui media digital.
Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan yang memperkenalkan rangkaian agenda kepada peserta. Setelah melakukan check-in dan roll dance, peserta mendapatkan pengantar mengenai pentingnya pariwisata berkelanjutan sebelum memasuki materi utama. Sesi tersebut menjadi titik awal bagi peserta untuk melihat keterkaitan antara perkembangan pariwisata dengan kemampuan destinasi maupun komunitas dalam membangun komunikasi yang relevan dengan masyarakat melalui platform digital.
Materi kemudian berfokus pada pemahaman dasar social media digital marketing. Peserta diajak mengenali alasan pemasaran digital semakin penting, manfaat penggunaannya, serta bagaimana menentukan target audiens berdasarkan kebutuhan dan karakteristik calon pengunjung. Pembahasan dilanjutkan dengan strategi menciptakan daya tarik melalui media sosial, mulai dari menganalisis kebutuhan pelanggan, menentukan platform yang sesuai, menyusun content calendar, hingga menjaga kualitas konten agar lebih mudah diingat oleh audiens.

Tidak berhenti pada pemaparan materi, peserta juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan proses pembuatan konten melalui sesi Edit to Engage. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada proses penyuntingan video untuk kebutuhan media sosial. Pembelajaran tersebut kemudian diterapkan dalam diskusi kelompok melalui sesi From Local Stories to Digital Content.
Dalam diskusi tersebut, EP dan LV bekerja sama menganalisis strategi pemasaran digital untuk dua potensi wisata lokal, yaitu Keranggan dan Palbatu. Peserta mengidentifikasi alasan kedua destinasi tersebut membutuhkan penguatan pemasaran digital, menentukan aspek yang dapat ditonjolkan, serta merancang jenis konten yang berpotensi digunakan untuk memperkenalkan keduanya kepada audiens yang lebih luas.
Bagi peserta, proses tersebut memberikan pengalaman untuk melihat pemasaran bukan sekadar aktivitas membuat unggahan, melainkan bagian dari upaya memahami cerita dan karakter sebuah destinasi.
“Menurut saya, kegiatan ini menarik karena kami tidak hanya belajar teori digital marketing, tetapi langsung mencoba melihat bagaimana sebuah tempat bisa dikembangkan melalui konten yang sesuai dengan potensinya,” ujar Davin, salah satu peserta kegiatan.
Hasil diskusi setiap kelompok kemudian dipresentasikan dalam sesi Solution Sync. Peserta menjelaskan analisis dan solusi yang telah mereka susun, sementara pembicara memberikan masukan terhadap ide yang dikembangkan. Interaksi tersebut membuat peserta dapat melihat berbagai pendekatan yang muncul dari perspektif kelompok yang berbeda.
Setelah sesi istirahat dan ice breaking, pembelajaran dilanjutkan melalui Crafting the Digital Roadmap. EP dan LV kembali berkolaborasi untuk menyusun content matrix berdasarkan materi yang telah dipelajari. Mereka menentukan jenis dan format konten, mengembangkan ide kreatif, serta menyusun perencanaan konten yang selaras dengan tujuan promosi destinasi atau inisiatif komunitas.
Kolaborasi antara EP dan LV turut memperkaya proses pembelajaran karena peserta membawa pengalaman dan perspektif yang berbeda. Pertukaran tersebut membuat diskusi tidak hanya berorientasi pada strategi pemasaran, tetapi juga pada bagaimana sebuah cerita lokal dapat dikemas agar lebih mudah dipahami dan diterima oleh audiens dari latar belakang yang beragam.
“Bekerja dalam kelompok dengan peserta dari latar belakang yang berbeda membuat kami bisa melihat satu potensi dari sudut pandang yang berbeda. Dari situ, ide konten yang muncul juga menjadi lebih beragam,” ujar Naura, salah satu peserta.
Melalui Tourism Capacity Lab: Tourism Digital Marketing, AIESEC in UIN Jakarta memberikan pengalaman pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan, praktik, dan kolaborasi lintas budaya. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkenalkan potensi wisata lokal, selama dilakukan dengan memahami karakter destinasi, kebutuhan audiens, serta pesan yang ingin disampaikan.








