Tangerang Selatan — AIESEC in UIN Jakarta mempertemukan Exchange Participants (EPs), Local Volunteers (LVs), dan kelompok perempuan dari Bank Sampah Cattleya dalam kegiatan Mother Growth Lab 1: From Home to Income. Kegiatan ini berfokus pada penggalian pengalaman para perempuan dalam menjalankan aktivitas ekonomi, pengembangan ide usaha yang dapat dilakukan dari rumah, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana untuk memperkenalkan dan memasarkan produk.
Kegiatan diawali dengan perkenalan antara peserta dan ibu-ibu PKK Cattleya. Momen tersebut memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk saling mengenal sebelum memasuki pembahasan utama. Para peserta kemudian mendengarkan cerita langsung mengenai perjalanan para perempuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan keterlibatan mereka di lingkungan Bank Sampah Cattleya.
Dalam sesi Behind the Counter, perwakilan ibu-ibu Cattleya membagikan pengalaman mengenai kehidupan mereka sebelum bergabung, alasan mengikuti kegiatan, manfaat yang dirasakan, hingga hal-hal yang membuat mereka tetap terlibat sampai saat ini. Cerita tersebut menjadi titik awal bagi peserta untuk memahami berbagai motivasi dan pengalaman yang melatarbelakangi aktivitas ekonomi para anggota komunitas.
“Dari cerita yang kami dengar, saya melihat bahwa setiap orang memiliki alasan dan perjalanan yang berbeda. Hal yang menarik adalah bagaimana kegiatan bersama bisa memberikan kesempatan bagi mereka untuk terus berkembang dan saling mendukung,” ujar Aramine, salah satu peserta kegiatan.
Setelah mendengarkan berbagai pengalaman, EPs dan LVs mengidentifikasi kesamaan dari cerita yang disampaikan. Hasil pembahasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi gagasan mengenai income from home, yaitu peluang usaha yang dapat dijalankan dari rumah dengan memanfaatkan keterampilan serta sumber daya yang tersedia.
Peserta tidak hanya memperkenalkan ide tersebut, tetapi juga membahas manfaat, teknik pemasaran, dan pilihan platform digital yang dapat digunakan. Diskusi berlangsung secara interaktif karena ibu-ibu Cattleya dapat memberikan tanggapan serta mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan penerapan ide tersebut dalam kehidupan mereka.
Pembahasan kemudian diarahkan pada pemanfaatan media sosial untuk mendukung kegiatan usaha. Peserta memperkenalkan beberapa platform yang dianggap familiar bagi anggota komunitas, sekaligus menjelaskan jenis konten yang dapat digunakan untuk memperkenalkan produk. Salah satu praktik yang dilakukan adalah membuat konten sederhana menggunakan TikTok, mulai dari proses penyusunan hingga pemilihan suara yang dapat membantu meningkatkan daya tarik konten.
Menurut Kiya, salah satu peserta kegiatan, proses tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial untuk usaha tidak selalu harus dimulai dengan strategi yang rumit. “Kami mencoba menunjukkan bahwa membuat promosi digital bisa dimulai dari hal sederhana. Yang penting adalah memahami siapa yang ingin dijangkau dan membuat konten yang sesuai dengan produk yang ditawarkan,” ungkapnya.
Interaksi kemudian dilanjutkan melalui sesi diskusi untuk mengembangkan gagasan usaha yang telah dibahas. Peserta bersama ibu-ibu Cattleya memetakan potensi pemanfaatan komoditas sampah, keterampilan pengolahan yang telah dimiliki, serta sumber daya manusia yang tersedia di komunitas.
Hasil pemetaan tersebut digunakan untuk menyusun rancangan workshop yang dapat dikembangkan oleh komunitas. Peserta menentukan tujuan, materi, serta alur kegiatan yang sesuai dengan potensi yang telah ditemukan. Mereka juga mendiskusikan platform digital seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok berdasarkan karakteristik pengguna serta jenis konten yang memungkinkan untuk dibuat.
Sebagai bagian dari penyusunan hasil akhir, peserta mengumpulkan berbagai referensi promosi digital dan menyusunnya bersama ke dalam sebuah presentasi. Materi tersebut mencakup konsep workshop, strategi promosi, rekomendasi media sosial, serta contoh visual yang dapat menjadi referensi bagi komunitas dalam mengembangkan kegiatan berikutnya.
Melalui Mother Growth Lab 1, pengalaman pertukaran tidak hanya berlangsung melalui interaksi antarbudaya, tetapi juga melalui proses belajar bersama komunitas. Peserta memperoleh kesempatan untuk memahami pengalaman perempuan dalam mengembangkan aktivitas ekonomi, sementara komunitas mendapatkan alternatif ide dan referensi untuk memperluas peluang usaha dengan memanfaatkan keterampilan serta teknologi digital yang tersedia.








