Setiap 10 September, dunia memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia atau World Suicide Prevention Day (WSPD). Peringatan yang digagas oleh International Association for Suicide Prevention (IASP) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2003 ini bukan sekadar agenda kalender kesehatan. Ia adalah pengingat tahunan bahwa bunuh diri dapat dicegah, dan pencegahan itu membutuhkan keterlibatan banyak pihak: individu, keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga pemerintah.

WSPD 2026 memiliki arti khusus. Tahun ini menjadi penutup dari tema global tiga tahunan "Changing the Narrative on Suicide" yang telah berjalan sejak 2024, sebelum tema baru diperkenalkan pada 2027. Tema tersebut mengajak masyarakat mengubah cara bicara soal bunuh diri, dari bahasa yang menghakimi menjadi percakapan yang terbuka dan suportif, dengan seruan aksi sederhana: mulailah percakapan.

Urgensinya tidak kecil. IASP mencatat lebih dari 720.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun di dunia. Di balik angka itu ada keluarga, sahabat, rekan kerja, dan komunitas yang ikut menanggung dampaknya jauh lebih lama daripada satu peristiwa kematian.

Membaca Data Bunuh Diri di Indonesia dengan Hati-hati

Di Indonesia, pencatatan angka kematian akibat bunuh diri masih menghadapi keterbatasan data, sehingga angkanya perlu ditafsirkan secara hati-hati. WHO mencatat estimasi angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia sebesar 1,6 per 100.000 penduduk pada 2019. Estimasi terbaru WHO untuk 2021 mencatat 3.333 kematian akibat bunuh diri dengan angka kasar 1,2 per 100.000 penduduk. WHO sendiri menegaskan bahwa kualitas data kematian di Indonesia masih terbatas, sehingga angka tersebut bukan gambaran final, melainkan estimasi yang terus diperbarui.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar berapa banyak kasus yang tercatat, melainkan bagaimana seseorang bisa sampai merasa tidak punya jalan keluar, faktor apa yang memperbesar atau memperkecil risiko itu, dan apakah lingkungan di sekitarnya cukup aman untuk membuatnya berani mencari bantuan.

Dari Stigma Menuju Percakapan yang Aman

Bunuh diri sering dibicarakan dengan bahasa yang menyederhanakan persoalan, seperti anggapan bahwa seseorang "kurang kuat" atau "hanya mencari perhatian". Cara pandang seperti ini justru membuat orang yang sedang tertekan makin enggan bercerita.

Padahal bunuh diri tidak pernah memiliki satu penyebab tunggal. Faktor biologis, psikologis, pengalaman hidup, hubungan sosial, kondisi ekonomi, hingga gangguan kesehatan mental saling berinteraksi dengan cara yang berbeda pada tiap individu. IASP mendorong masyarakat untuk melakukan check-in sederhana kepada orang terdekat, memberi ruang untuk bicara, dan tidak takut menanyakan kondisi seseorang secara langsung. Tujuannya bukan menggantikan peran tenaga profesional, melainkan membuka pintu pertama menuju pertolongan.