Jakarta – Mengenal sebuah kota tidak selalu harus lewat presentasi atau brosur. Itulah gagasan di balik Jakarta 101, kegiatan cultural exchange yang diselenggarakan AIESEC in UIN Jakarta bagi Exchange Participants (EP) dan Local Volunteers (LV). Peserta diajak menjelajahi dua lokasi dengan karakter berbeda, yakni Galeri Indonesia Kaya dan kawasan Gelora Bung Karno (GBK), dengan TransJakarta sebagai penghubung perjalanan.
Sebelum berangkat, peserta mengikuti sesi pembukaan yang menjelaskan rangkaian kegiatan dan aturan selama perjalanan. Mereka kemudian diminta menjawab satu pertanyaan check-in: apa yang akan dilakukan jika waktu berhenti selama 24 jam. Roll dance bersama menyusul untuk membangun suasana akrab antara EP dan LV sebelum perjalanan dimulai.
Tujuan pertama adalah Galeri Indonesia Kaya, yang menjadi bagian dari sesi Destination Reached: Indonesia Kaya. Setelah mendapat arahan fasilitator, peserta menjelajahi instalasi yang memperkenalkan pakaian tradisional, tarian daerah, kuliner, satwa, serta pertunjukan berbasis proyeksi digital. Format yang interaktif dan visual membuat keberagaman budaya Indonesia lebih mudah dikenali, terutama bagi peserta yang baru pertama kali berkunjung.
Bagi para EP, pengalaman ini menjadi pengantar sebelum mereka menjalani program di berbagai daerah dengan ciri budaya masing-masing.
“Di satu tempat saja, saya bisa melihat banyak hal tentang Indonesia. Sebagai pendatang, ini membantu saya memahami betapa beragam budaya di negara ini,” ucap Yuxuan, salah satu Exchange Participant.
Perjalanan berlanjut ke GBK dengan TransJakarta. Bagi peserta, bagian ini bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan kesempatan merasakan langsung cara warga ibu kota bergerak setiap hari.
Setibanya di GBK, peserta mendapat pengarahan singkat lalu menjelajah dalam kelompok. Rute mereka melewati Hutan Kota GBK, Istora Senayan, Taman Kota GBK, dan Softball Stadium. Jika Galeri Indonesia Kaya menyajikan budaya dalam bentuk representasi, kawasan GBK memperlihatkan budaya yang hidup dalam keseharian: warga berolahraga, berinteraksi, dan memanfaatkan ruang terbuka untuk beragam aktivitas.
“Naik TransJakarta dan berkeliling GBK membuat pengalaman ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kami melihat bukan hanya tempat wisata, tetapi juga cara orang menjalani aktivitas mereka di ruang publik,” ucap Julia, salah satu Exchange Participant.
Rangkaian kegiatan berakhir di Softball Park Discovery. Di sesi ini peserta melakukan observasi, dokumentasi, dan refleksi singkat atas perjalanan mereka. Mereka juga membandingkan kesan dari kedua lokasi, mulai dari ruang budaya yang tertata hingga ruang publik yang dinamis.
Lewat Jakarta 101, AIESEC in UIN Jakarta ingin menunjukkan bahwa pertukaran budaya bisa terjadi di mana saja, dari galeri hingga halte bus dan taman kota. Bagi para peserta, Jakarta tidak lagi sekadar tujuan kunjungan, tetapi menjadi pintu masuk untuk memahami budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia secara lebih dekat.







