Serius, cuma mau beli bensin. Bukan rebutan tiket konser, bukan antre sembako. Bensin. Buat motor istriku yang malam ini kupinjam.
Sampai di SPBU Mojokerto, langsung bengong. Motor sudah berderet panjang, dan di tengahnya ada papan gede bertuliskan "R2 2 JALUR". Cuma dari papan itu saja sudah kelihatan, antrean sebanyak ini sampai harus dibikinin jalur khusus. Mesin dimatikan, motor didorong pelan, maju sejengkal, diam lagi. Maju sejengkal, diam lagi. Begitu terus sampai tiga puluh menit, baru tangkinya terisi.
Tiga puluh menit buat sesuatu yang harusnya lima menit. Sambil nunggu, kepala diriku malah muter ke satu hal.
Beberapa bulan lalu diriku pernah komen di salah satu akun Instagram di Mojokerto. Isinya sederhana, antrean BBM mengular, di beberapa tempat malah habis. Dan yang balas? Banyak yang bilang Indonesia baik-baik saja.
Baik-baik saja.
Entah itu buzzer, bot, atau manusia beneran, diriku ga tahu. Yang jelas malam ini diriku pengin banget narik mereka satu-satu ke SPBU ini, suruh duduk di atas motor, dengerin bunyi mesin yang mati-nyala, lalu tanya pelan-pelan, "Masih baik-baik saja?"
Biar ga dibilang halu
Sampai rumah, diriku iseng cari beritanya. Takutnya cuma diriku yang lagi sial. Ternyata enggak.
Di Lumajang, sejak 1 September warga susah dapat Pertalite. Ada yang sampai keliling tiga SPBU, semuanya kosong, baru dapat di SPBU yang jaraknya sekitar 17 kilometer, itu pun masih antre setengah jam. Ini disadur dari Pantura7 dengan judul "Pertalite di Lumajang Langka, Pindah-pindah SPBU Tetap Antre".
Di Makassar, Pertalite eceran dijual Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per liter, padahal harga normalnya sekitar Rp10 ribu. Ini disadur dari Republika dengan judul "Mengapa BBM Subsidi di Sulsel Langka Hingga Video Antrean di SPBU Viral?". Di Lampung, sopir truk menunggu berjam-jam cuma buat dapat Biosolar, seperti disadur dari Media Indonesia Asia dengan judul "BBM Langka di Makassar dan Lampung, Warga Antre Berjam-jam".
Dan yang bikin diriku makin ga habis pikir, ini ternyata sudah lama. Kompas.id, dalam artikel berjudul "Antrean BBM Mengular di Daerah, Kepekaan Krisis Pemerintah Dipertanyakan", mengutip Organda soal angkutan darat yang pemanfaatannya anjlok sampai 30 persen. Di artikel yang sama, disebutkan ada daerah yang malah menilang pengendara yang lagi antre BBM, bahkan sampai ban kendaraannya dikempesin.
Ditilang. Karena antre. Buat beli bensin.
Itu pertengahan Juli. Sekarang sudah akhir September. Jadi komentar diriku di Instagram dulu jelas bukan halusinasi.
Katanya stok aman
Oke, diriku coba adil. Pemerintah bilang stok aman.
Usai rapat energi nasional, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut stok BBM cukup untuk sekitar 18 sampai 20 hari ke depan, walau harga minyak dunia sudah lewat 100 dolar AS per barel. Disadur dari Investortrust dengan judul "Antrean Pembelian BBM" (tautan), yang di artikel itu juga mencatat antrean tetap terjadi di berbagai daerah. Di Jember, bupatinya bilang penyebabnya cuma distribusi, kemacetan di sekitar pelabuhan bikin pengiriman dari depo tersendat. Disadur dari Berita Bersatu dengan judul "Pertalite Langka Antrian Mengular, Gus Fawait Pastikan Stok Aman Warga Diimbau Tak Panik".
Ya mungkin benar. Mungkin stoknya memang aman, mungkin distribusinya memang tersendat.
Tapi yang ngantre tadi malam bukan angka di laporan. Yang ngantre itu manusia. Ada yang boncengan sama anaknya, ada yang kelihatan baru pulang kerja, ada yang mungkin besok pagi harus berangkat pagi-pagi buta. Buat mereka, "stok aman" itu kalimat yang jauh banget dari kenyataan di depan mata.
Baik-baik saja itu buat siapa sih
Diriku cuma kehilangan setengah jam. Habis itu bisa pulang, rebahan, selesai. Tapi ojol yang tiap menit nunggu itu penghasilan yang hilang? Sopir yang harus milih antara antre atau telat setor? Pedagang kecil yang cuma punya satu motor buat kulakan? Buat mereka, 30 menit itu bukan sekadar bosan. Itu uang.
Makanya diriku kesal, dan capek juga, tiap dengar orang bilang Indonesia baik-baik saja. Bukan berarti diriku pengin semuanya kelihatan jelek. Tapi kalimat itu enak banget diucapin dari layar HP yang tangki motornya udah penuh.
Diriku ga minta kamu ikutan marah. Cuma satu, jangan bilang masalah orang lain itu ga ada cuma karena kamu belum kena.
Kalau kamu juga lagi ngalamin, atau sudah keliling tiga pom baru dapat, cerita aja di komentar. Mungkin ga mengubah apa-apa. Tapi setidaknya jadi ga sendirian resahnya.
Semoga malam ini jadi antrean yang terakhir. Tapi jujur, diriku ga terlalu berharap.



