Sore itu HP-ku getar terus. Voice note masuk satu per satu dari seseorang yang belum lama kukenal. Kita sebut saja dia Rani, bukan nama sebenarnya.
Awalnya diriku pikir isinya obrolan biasa. Ternyata bukan. Makin lama diriku dengerin, makin pelan diriku bernapas. Ada cerita tentang anak bungsu yang dititipkan ke neneknya, tentang rumah yang bukan tempat pulang, tentang kalimat "jangan pulang membawa air mata" yang masih dia ingat sampai sekarang. Anak kecil yang mau mengadu, dan yang dia dapat bukan pelukan.
Diriku tahu satu hal: kalimat "yang sabar ya" terlalu kecil untuk cerita sebesar ini. Jadi diriku balas dengan voice note juga. Bukan buat menasihati, cuma supaya dia tahu ada yang benar-benar mendengar.
Yang bikin diriku terdiam bukan ceritanya, tapi caranya bercerita
Setelah voice note itu, Rani nulis chat. Santai, pakai "hehehe", pakai emoji ketawa. Dia bilang ceritanya memang benar, dan sampai sekarang keluarganya belum tahu. Yang tahu cuma sahabatnya, dan sekarang diriku.
Diriku baca sambil mikir kalau dia ketawa, padahal yang dia ceritakan ga ada lucunya sama sekali.
Mungkin begitu cara sebagian orang bertahan. Mereka menertawakan lukanya duluan, supaya ga terlalu sakit ketika harus diceritakan ke orang lain.
Lalu dia bilang sesuatu yang sampai sekarang masih terngiang. Dia sebenarnya ga butuh diapresiasi. Dia cuma pengin orang lain bisa bangkit pelan-pelan, kayak dirinya. Dia sendiri bingung kenapa bisa cerita ke diriku, dan buru-buru minta maaf karena merasa ceritanya "ga ada isinya".
Ran, diriku mau jujur kalau kalimat itu yang paling nyesek. Orang yang bertahun-tahun ga didengar akhirnya terbiasa mengira ceritanya ga penting, sampai-sampai minta maaf padahal dia yang baru saja dengan berani membuka pintu.
Perjalanan yang ga instan
Dari voice note itu diriku tahu, jalan Rani ga pendek. Dia membiayai sekolahnya sendiri, sementara kakaknya dibiayai penuh. Dia harus melewati hal-hal yang ga sepatutnya dialami siapa pun. Dia berharap rumah tangga akan jadi tempat aman, tapi ternyata bukan, dan akhirnya dia memilih pergi. Berkali-kali dia sampai di titik ingin menyerah, sampai suatu malam yang bikin dia sadar dirinya ga baik-baik saja.
Malam itu dia memutuskan pergi ke psikiater. Dia didiagnosis depresi berat karena trauma yang menumpuk sejak kecil.
Dan di situlah ceritanya berbalik. Dia belajar ga terlalu peduli pada penilaian orang lain, termasuk keluarganya sendiri. Dia belajar mencintai dirinya. Dia bertemu keluarga yang hangat, hal yang ga pernah dia rasakan sejak kecil. Dan dia sempat ga percaya Tuhan selama dua tahun, sampai seorang sahabat mengajaknya percaya lagi. Bukan dengan ceramah, tapi dengan tetap ada di sampingnya.
Sekarang dia berusaha jadi lebih baik dari dulu dalam segala hal. Ga sempurna, tapi jalan.
Izin yang dia berikan
Diriku bilang, kalau dia mau, ceritanya bisa kutulis supaya jadi dorongan buat orang lain. Tapi semuanya tergantung izinnya. Jawabannya singkat: "Boleh, Kak. Tapi jangan sebutin namaku ya."
Jadi itulah yang kulakukan. Nama, tempat, dan detail yang bisa mengarah ke identitasnya sengaja kusamarkan. Dia ga butuh sorotan. Dia cuma ingin ceritanya berguna.
Chat itu ditutup dengan doa sederhana: semoga semua orang yang mengalami gangguan mental lekas pulih. Diakhiri pita kuning.
Kalau ada yang menitipkan cerita padamu
Malam itu diriku belajar, kadang yang dibutuhkan orang bukan solusi, bukan nasihat panjang, bukan kata-kata bijak. Cuma satu telinga yang ga terburu-buru, dan satu kalimat yang bilang "ceritamu penting".
Kalau hari ini ada yang menitipkan ceritanya padamu, dengerin dulu. Jangan buru-buru menghibur, jangan menghakimi. Kamu mungkin jadi orang kedua yang dia percaya dalam hidupnya.
Dan kalau kamu yang sedang memikul sesuatu yang berat, kamu ga harus kuat sendirian. Cerita ke satu orang yang kamu percaya sudah langkah besar. Kalau rasanya sudah terlalu berat, ada bantuan profesional. Layanan dukungan psikologis awal dari Kemenkes bisa dihubungi lewat 119 ekstensi 8 atau Healing119.id.
Rani pernah bilang, kehidupan yang pernah rapuh, bahkan yang hampir runtuh sekalipun, akan menumbuhkan ranting-ranting baru yang jauh lebih indah dibanding daun-daun yang pernah gugur.
Diriku percaya itu.
Buat Rani, terima kasih sudah percaya. Ceritamu sampai.
Kisah lengkap Rani ada di Runtut.com: Bagian 1 dan Bagian 2.


