Jakarta — AIESEC in UIN Jakarta menghadirkan pengalaman berbagi dan belajar bersama anak-anak di Asrama Cinere melalui kegiatan Charity Learning Project di Cinere, pada 21 Agustus 2026. Mengusung aktivitas edukatif, permainan, kreativitas, dan pertukaran budaya, kegiatan ini mempertemukan Exchange Participants (EPs), Local Volunteers (LVs), dan anak-anak dalam suasana yang hangat untuk membangun koneksi sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Sebelum kegiatan dimulai, para relawan mempersiapkan tempat dan membagi EPs ke dalam kelompok kecil. Setiap EP Buddy bertanggung jawab mendampingi sekitar lima hingga enam anak selama kegiatan berlangsung. Para relawan juga mendapatkan pengingat untuk memberikan perhatian penuh selama berinteraksi, mulai dari menjaga kontak mata hingga mengurangi penggunaan telepon genggam agar komunikasi dengan anak-anak dapat berlangsung lebih dekat.
Untuk membangun suasana yang lebih personal, peserta terlebih dahulu menyiapkan snacks serta pesan-pesan singkat yang berisi motivasi dan kalimat positif. Persiapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyambutan anak-anak melalui sesi Hello, Sunshine!. Para relawan menyapa mereka, berbincang mengenai kegiatan di sekolah, dan mengajak mereka berkenalan sebelum memasuki aktivitas kelompok.
Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah Moments of Connection & Cultural Exchange. Anak-anak dan relawan duduk bersama dalam kelompok untuk saling memperkenalkan diri dan berbagi cerita sederhana mengenai hal-hal yang mereka sukai. Pertanyaan mengenai makanan favorit, hewan kesukaan, kegiatan saat liburan, hingga permainan yang dikenal di negara lain menjadi pembuka percakapan.
Bagi para Exchange Participants, interaksi tersebut memberikan kesempatan untuk mengenal kehidupan sehari-hari anak-anak di Indonesia secara lebih dekat. Di sisi lain, anak-anak juga dapat mendengar cerita dan pengalaman dari peserta yang berasal dari latar belakang berbeda.
“Yang paling berkesan buat aku adalah ketika ngobrol langsung dengan anak-anak. Pertanyaannya sederhana, tapi dari situ kami bisa saling mengenal dan melihat bahwa setiap orang punya cerita serta kebiasaan yang berbeda,” ujar Yuxuan, salah satu Exchange Participant.

Setelah sesi berbagi, kegiatan dilanjutkan dengan Fold, Create & Smile, yaitu aktivitas membuat origami bersama. Anak-anak mengikuti tutorial sederhana dengan bantuan para relawan. Selain melatih kreativitas dan ketelitian, kegiatan ini menciptakan kesempatan bagi relawan untuk mendampingi anak-anak secara langsung ketika mereka menemukan kesulitan.
Hasil karya tersebut kemudian dibawa ke sesi Hello, New Friends!, ketika setiap kelompok memperkenalkan anggota mereka di hadapan peserta lain. Anak-anak juga diberikan kesempatan untuk menceritakan minat mereka maupun menunjukkan hasil origami yang telah dibuat. Momen ini memberikan ruang bagi mereka untuk tampil dan berbagi dengan percaya diri.
Suasana semakin meriah melalui permainan Focus Frenzy dan Guess Who?. Peserta diajak menguji kemampuan fokus melalui permainan mengikuti instruksi, kemudian bekerja sama dalam permainan tebak profesi menggunakan gerakan pantomim. Aktivitas tersebut membuat interaksi antara relawan dan anak-anak berlangsung lebih cair sekaligus mendorong mereka untuk berkomunikasi dan bekerja sama.
Menurut Naura, salah satu peserta kegiatan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menciptakan dampak tidak selalu harus dilakukan melalui aktivitas yang besar. “Kadang hal sederhana seperti bermain, mendengarkan cerita, atau membuat sesuatu bersama bisa membuat orang merasa diperhatikan. Menurutku itu yang membuat kegiatan ini terasa meaningful,” ungkapnya.
Menjelang akhir kegiatan, seluruh peserta mengikuti Tree of Kindness. Anak-anak, relawan, dan OC menuliskan pesan positif pada sticky notes untuk kemudian ditempelkan pada gambar pohon. Pesan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus kenang-kenangan dari interaksi yang telah terjalin sepanjang kegiatan.
Melalui Charity Learning Project, AIESEC in UIN Jakarta menghadirkan ruang pertemuan yang tidak hanya berisi kegiatan edukatif dan permainan, tetapi juga pertukaran cerita serta pengalaman. Interaksi lintas budaya yang berlangsung secara sederhana menunjukkan bahwa koneksi dapat tumbuh melalui percakapan, perhatian, dan kemauan untuk belajar satu sama lain.



