Hani Azizah Azaniansyach, Mahasiswa Universitas Pamulang

Pernah tidak, saat sedang asyik menggulir media sosial, tiba-tiba muncul pertanyaan, “Nanti setelah lulus mau kerja apa, ya?” Pertanyaan ini sering menghantui mahasiswa, terutama ketika mulai memasuki semester akhir. Skripsi belum selesai, pengalaman magang masih minim, dan rencana masa depan belum jelas. Padahal, merencanakan karier sejak kuliah bisa membantu kita lebih siap menghadapi dunia kerja.

Menariknya, kita bisa belajar dari konsep perencanaan sumber daya manusia (SDM) yang digunakan dalam dunia kerja. Secara sederhana, perencanaan SDM merupakan proses memperkirakan kebutuhan tenaga kerja dan menyiapkan langkah untuk memenuhinya. Jika perusahaan merencanakan kebutuhan karyawannya, mahasiswa juga bisa menerapkan pola pikir serupa untuk mempersiapkan masa depan. Bedanya, yang perlu kita kembangkan adalah kemampuan dan potensi diri sendiri.

Pertama, analisis kebutuhan. Dalam perencanaan SDM, perusahaan mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan untuk suatu posisi. Mahasiswa bisa menerapkan cara ini dengan membandingkan kemampuan yang dimiliki dengan kualifikasi pekerjaan yang diminati. Misalnya, jika ingin menjadi content strategist, cobalah membaca beberapa lowongan kerja dan mencatat keterampilan yang sering diminta, seperti menulis, menyusun strategi konten, serta menganalisis data. Dari situ, kamu bisa mengetahui kemampuan yang perlu ditingkatkan.

Kedua, forecasting atau memperkirakan kebutuhan masa depan. Dunia kerja terus berubah seiring perkembangan teknologi dan industri. Karena itu, mahasiswa perlu mengikuti tren bidang yang diminati melalui berita, webinar, laporan industri, atau diskusi dengan praktisi. Tujuannya bukan menebak masa depan secara pasti, melainkan mempersiapkan diri agar lebih adaptif ketika kebutuhan dunia kerja berubah.

Ketiga, rencana pengembangan diri. Setelah mengetahui keterampilan yang dibutuhkan, langkah berikutnya adalah menyusun target yang realistis. Misalnya, mengikuti kursus pada semester ini, membuat portofolio pada semester berikutnya, lalu mencari kesempatan magang sebelum lulus. Kamu juga bisa memanfaatkan proyek kuliah dan kegiatan organisasi untuk menambah pengalaman. Tidak perlu melakukan semuanya sekaligus. Lebih baik memiliki beberapa target yang jelas dan konsisten dijalankan daripada mengikuti banyak kegiatan tanpa arah.

Keempat, menyiapkan alternatif karier. Dalam manajemen SDM, succession planning berkaitan dengan persiapan calon pengganti untuk posisi penting dalam organisasi. Untuk perencanaan karier pribadi, prinsip kesiapan menghadapi perubahan dapat diadaptasi dengan mempertimbangkan beberapa pilihan pekerjaan. Misalnya, jika ingin menjadi content strategist, kamu juga bisa mengeksplorasi peluang sebagai social media specialist, penulis konten, atau staf pemasaran digital. Memiliki alternatif bukan berarti menyerah pada impian, melainkan memberi ruang untuk tetap berkembang ketika peluang yang diharapkan belum tersedia.

Bayangkan seorang mahasiswa komunikasi yang ingin bekerja di perusahaan media. Ia mulai memeriksa lowongan kerja, menyadari bahwa kemampuan analisis datanya masih perlu ditingkatkan, lalu mengikuti kursus dan membangun portofolio dari proyek kuliah. Ia juga mencari informasi tentang perkembangan industri media digital dan mencoba magang. Langkah-langkah sederhana tersebut membuat persiapannya lebih terarah, meskipun tidak menjamin bahwa ia akan langsung mendapatkan pekerjaan impian.

Lantas, dari mana harus memulai? Cobalah menuliskan tiga hal: pekerjaan yang diminati, keterampilan yang sudah dimiliki, dan kemampuan yang masih perlu dikembangkan. Setelah itu, tentukan target untuk satu semester ke depan dan evaluasi perkembangannya secara berkala. Jika minat atau kondisi industri berubah, kamu tetap bisa menyesuaikan rencana tanpa harus merasa gagal.

Pada akhirnya, merencanakan karier bukan berarti harus mengetahui secara pasti akan menjadi apa dalam lima tahun mendatang. Kita hanya perlu mengenali potensi diri, memahami kebutuhan dunia kerja, dan menyiapkan langkah yang masuk akal. Belajar dari cara kerja HRD dapat membantu mahasiswa memandang karier dengan lebih terarah. Sebab, masa depan memang tidak bisa dipastikan, tetapi persiapannya bisa dimulai dari sekarang.