Bagi sebagian orang, game online adalah hiburan yang sangat menyenangkan. Ada banyak hal yang bisa mereka lakukan, untuk menghabiskan waktu lewat game online. Mulai dari ngobrol, berkumpul atau bahkan memaki bersama.
Kendati demikian, hal yang seharusnya menghibur, justru menjadi hal yang merugikan bagi sebagian orang lainnya. Sebab, ada banyak hal yang habis, hilang, dan rusak dengan menghabiskan waktu lewat game online.
Satu tahun terakhir ini, saya aktif di gerakan literasi desa. Lewat gerakan ini, menjadikan saya lebih intens berhubungan dengan masyarakat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saya belum bisa mengatakan saya dekat dengan masyarakat, tapi dengan kegiatan literasi desa, saya lebih memahami apa yang menjadi keluh kesah mereka, terutama mengenai game online.
Anggapan awal saya, game online bisa masuk ke desa yang sering dicap terbelakang. Sebab, game online membawa unsur kemajuan teknologi. Saya memaklumi game online bisa menjadi peluang bagi anak-anak atau remaja dalam menjalin ikatan sosial dan kreativitas. Tapi, sekarang anggapan positif itu bergeser.
Banyak ibu-ibu, om-om, dan bapa-bapa yang mengeluhkan anaknya yang terlalu serius dan intens dengan game online. Tidak hanya itu, mereka juga bercerita kalau pernah beberapa kali, anaknya dengan sengaja membelanjakan uang mereka untuk membeli item di game online.
Mungkin, bagi sebagian orang yang sudah berlebih rezeki, hal seperti itu tidak menjadi masalah besar. Namun, bagi orang yang hanya memiliki rezeki pas-pasan, itu akan menjadi sebuah bencana di keluarganya.
Kemudian, para orang tua juga mengamati perubahan anak akibat game online di ranah moral. Banyak dari mereka bercerita, bahwa saat ini anak mereka sering berucap kata-kata kasar. Kemudian, sisi emosionalnya juga sering meluap-luap. Para orang tua meyakini, bahwa perubahan sikap moral anak tersebut gara-gara game online.
Dengan adanya keluhan para orang tua yang seperti itu, lantas apakah kita harus menyalahkan game online? atau sebaiknya seperti apa kita menyikapi perkembangan teknologi di ranah hiburan ini? Oke, saya tidak akan memberikan tips apapun untuk kawan-kawan pembaca. Sebab, saya yakin kalian lebih paham.
Namun, bagi kalian para pejuang literasi terutama di daerah-daerah desa, mungkin saran saya ini bisa menjadi rujukan untuk mengurangi efek buruk dari game online.
Pada dasarnya, entah anak-anak atau orang dewasa, manusia akan selalu butuh hiburan. Selain kaya akan bahasa, flora, fauna, atau bahkan emas nya, Indonesia juga cukup kaya dengan ‘permainannya’. Terutama permainan-permainan diluar ruangan yang saat ini mulai dilupakan.
Saya masih ingat sewaktu kecil, banyak sekali permainan yang bisa saya mainkan bersama kawan-kawan sepulang sekolah. Dahulu, kisaran tahun 2007, permainan seperti gobak sodor, petak umpet, egrang dan permainan sejenis nya, sering kali menjadi permainan utama yang saya lakukan bersama kawan-kawan. Mungkin, untuk tahun 2026 ini, permainan seperti itu masih sangat relevan kita tawarkan pada generasi alfa atau bahkan beta nanti.
Saya percaya, setiap daerah memiliki permainan sebagai hiburannya masing-masing dengan nama yang berbeda-beda. Hal itu bisa menjadi pilihan kawan-kawan pejuang literasi untuk menjaganya. 20 tahun lalu permainan itu masih populer, namun saat ini sudah menjadi asing. Sangat disayangkan jika permainan 20 tahun lalu sudah harus di museumkan di abad 21 yang masih awal ini.


