Jakarta, 17 Agustus 2026 – Di Ragunan, sorak yel-yel dan tawa peserta berpadu dengan kisah perjuangan menuju kemerdekaan. Pada Senin, 17 Agustus 2026, AIESEC in UIN Jakarta menggelar Red & White Spark, kegiatan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang diikuti Exchange Participants (EP) dan Local Volunteers (LV). Selain bermain bersama, peserta diajak menyelami peristiwa-peristiwa penting yang mengantar Indonesia ke Proklamasi.

Inti kegiatan ini adalah storytelling sejarah. Lewat sesi Tales Beneath The Red and White, peserta mendengarkan kisah Insiden Hotel Yamato, lengkap dengan latar belakang peristiwa serta nilai keberanian, persatuan, dan nasionalisme yang menyertainya.

Cerita berlanjut dalam sesi History Created in Rengasdengklok, yang memaparkan rangkaian kejadian menuju Proklamasi Kemerdekaan. Penyampaian secara naratif membuat peserta dapat mengikuti alur peristiwa dan memahami makna di baliknya, bukan sekadar mengetahui fakta.

Pertukaran perspektif terjadi pada sesi Too-Much-Information History Edition. LV membagikan fakta-fakta menarik yang mereka temukan, sementara EP menceritakan hal yang paling mencuri perhatian mereka selama sesi berlangsung.

“Storytelling membuat perayaan kemerdekaan terasa lebih berarti. Kami tidak hanya bermain, tetapi juga mengerti cerita di balik perjalanan Indonesia meraih kemerdekaan,” ucap Naura, salah satu peserta.

Sebelum sesi sejarah, kegiatan dibuka dengan perkenalan dan check-in. Peserta lalu dibagi ke dalam beberapa kelompok, dan masing-masing menciptakan yel-yel untuk membangun kekompakan.

Rangkaian permainan yang menuntut komunikasi dan kerja sama pun dimainkan:
Perepet Jengkol, Speed-Up Step, Catch the Ball, dan Oper Karet. Dalam Perepet Jengkol, peserta bergerak dengan kaki saling bertumpuk sambil bernyanyi, lalu mengambil sumpit dari botol. Speed-Up Step memakai kardus yang disusun melingkar dengan sistem eliminasi. Catch the Ball mengharuskan tim menangkap bola dengan kain atau sarung, sementara pelempar bermata tertutup. Pada Oper Karet, peserta memindahkan karet dengan sumpit antaranggota hingga masuk botol, dan setiap kesalahan berarti mengulang dari awal.

Bagi peserta internasional, permainan khas perayaan lokal ini menjadi pengalaman baru yang dijalani bersama orang-orang dari latar belakang berbeda.

“Awalnya beberapa permainan terasa sulit karena kami harus mengikuti gerakan satu sama lain dengan tepat. Tapi dari situ kami belajar berkomunikasi dan bekerja sebagai satu tim,” ucap Yuxuan, salah satu Exchange Participant.

Melalui Red & White Spark, AIESEC in UIN Jakarta memadukan kegembiraan perayaan dengan pembelajaran budaya dan sejarah. Interaksi antara EP dan LV menunjukkan bahwa mengenal sebuah negara tidak selalu harus lewat pembelajaran formal. Permainan, kerja sama, dan cerita sejarah dapat menjadi pintu masuk untuk memahami nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia sekaligus mempererat hubungan lintas budaya.