Sungai kami mati. Kami tak sadar dengan kematiannya. Kami tahu saat kami diingatkan oleh tanah yang mulai kering keronta sampai retak di mana-mana. Sungai kami mati dan kami tak sadar dengan kematiannya. Kami tahu saat ikan-ikan yang biasa kami makan, mengabarkan kekosongan air dari perut kami. Sungai kami mati, sungai kami mati, dan sungai kami mati. 

Sungai? apa sungai yang mati masih bisa disebut sungai? Itu bukan sungai, mereka adalah lapang tanah yang sedikit basah. Konon, tanah-tanah itu adalah tempat bersemayam dewi penyegaran. Sang dewi masih tersisa, jauh di dalam tanah-tanah itu.

Lantas, sebenarnya sungai itu… ahh tanah basah itu… mati atau suri? Anak kecil dari bukit sukma raga, berteriak lewat terompet mautnya. “Heyy, pohon-pohon tua itu dimana? Anak-anak pohon tua itu dimana? dan sungai-sungai itu dimana?”

Orang-orang yang mendengar teriakan anak kecil dari bukit sukma raga itu terheran-heran. “Apa… pohon tua? anak pohon tua? sungai? mengapa anak kecil itu teriak soal pohon tua. Sudah 50 tahun, belum pernah ada pohon tua di sini,”

Orang-orang itu baru sadar, pohon yang seusia anak kecil dari bukit sukma raga itu, baru saja mati. Sebab, sudah 6 bulan ini tak ada air dari sungai-sungai kami. Sungai? Sungai-sungai itu akan mati dan sirna, bahkan bukan hanya 6 bulan saja. Kematian itu abadi, kematian itu sunyi, kematian itu sepi. Sebab, kami tak sadar dengan kematiannya.